Author Archives: KAMMI STKS

About KAMMI STKS

KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) STKS Bandung adalah salah satu wajihah dakwah yang berada di lingkungan STKS Bandung. Dengan semangat Amar Ma'ruf dan Nahi Munkar, berjuang memusnahkan kebatilan dan menegakkan keadilan. Salam hangat dan semangat selalu dalam perjuangan Dakwah KAMMI. Selasa, 07 Februari 2012

Overload Informasi dan Kekurangcakapan Analisis Isu*

Originally posted on :

Overload Informasi dan Kekurangcakapan Analisis Isu*

*Oleh Muhammad Joe Sekigawa, A Social Worker, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Orang yang berpendidikan pun, ketika berada jauh dari pusat sumber informasi, tak kan mampu untuk meramu informasi yang sesuai dengan ketepatan pilihan di kondisi yang terjadi pada waktu itu. Lalu bagaimana dengan orang yang kurang berpendidikan tapi kemudian dicekoki dengan limpahan informasi yang masih terus diperdebatkan? Namun di alam demokrasi ini, suara orang per orang dianggap sebagai suara Tuhan yang harus dipenuhi dan diakomodir keinginannya.

Demokrasi yang kita praktekkan hari ini merupakan “demokrasi latah” yang kebablasan nilai-nilai kebebasan yang dijunjungnya atas nama Hak Asasi Manusia. Lihat saja betapa mudah Presiden kita dihujat sedemikian rupa, padahal ia merupakan simbol pemimpin nomor satu di negara kita. Ingat saja betapa mudah berita yang baru “isu” kemudian dianggap sebagai fakta gara-gara terus menerus dan berulang kali diputar di berita…

View original 484 more words

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Khilafah dan Demokrasi Menurut Peneliti INSIST*

Originally posted on :

Khilafah dan Demokrasi Menurut Peneliti INSIST*

*Oleh Dr. Adian Husaini, Peneliti INSIST dan Dosen Universitas Ibn Khaldun Bogor

Sebenarnya, masalah demokrasi bisa dibicarakan dengan lebih ilmiah. Istilah “demokrasi” tidak tepat didikotomikan dengan istilah “khilafah”. Tetapi, lebih tepat, jika “demokrasi” versus “teokrasi”. Sistem khilafah beda dengan keduanya. Sebagian unsur dalam sistem khilafah ada unsur demokrasi (kekuasaan di tangan rakyat) dan sebagian lain ada unsur teokrasi (kedaulatan di tangan Tuhan).

Membenturkan demokrasi dengan khilafah, menurut saya, tidak tepat. Sistem demokrasi ada yang bisa dimanfaatkan untuk dakwah, karena adanya kebebasan berpendapat. Maka, Hizbut Tahrir (HT) justru berkembang ke negara-negara yang menganut sistem demokrasi, seperti di Indonesia. Di AS, Inggris dan tempat lainnya, HT lebih bebas bergerak dibanding dengan di Arab Saudi. Karena itu, demokrasi memang harus dinikmati, selama tidak bertentangan dengan Islam. Itulah yang dilakukan oleh berbagai gerakan Islam, dengan caranya masing-masing. Ada yang masuk sistem politik, ada yang di luar sistem…

View original 761 more words

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Ikhwanul Muslimin dan Masa Awal Kemerdekaan RI*

Originally posted on :

Ikhwanul Muslimin dan Masa Awal Kemerdekaan RI*

*Oleh Muhammad Joe Sekigawa, A Social Worker, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Sebuah catatan ringkas ini saya catut dari tulisan Ahmad Rofi’ Syamsuri, MA yang berjudul “Gerakan Dakwah Ikhwanul Muslimin dan Dakwah di Indonesia” di Jurnal El Hikmah, Volume I/No.2/Mei 2009/Jumadil Awal 1430 Hijriah. Satu catatan penting yang ingin saya bagikan ini adalah betapa bangsa kita juga pernah memiliki spirit jihad yang hanya tak sebatas “semangat”, namun diwujudkan dalam sebuah aksi nyata, yakni pada pertempuran November 1945 antara rakyat Surabaya melawan penjajah Inggris kala itu.

Tanpa menafikkan bentuk perjuangan lainnya di wilayah lain di seluruh wilayah Indonesia, berikut cuplikan ringkasnya. Semoga bermanfaat dan menambah gairah para pejuang dakwah fii sabillah. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar..!!

Pada pertengahan malam di bulan Juli 1945 sejumlah mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Mesir…

View original 1,097 more words

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Antara Kekaguman dan Kekecewaan*

Originally posted on :

Antara Kekaguman dan Kekecewaan*

*Oleh Muhammad Joe Sekigawa, A Social Worker, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Adalah jalan juang para ikhwah Tarbiyah dan berbagai elemen kelompok umat Islam lainnya untuk turut serta mewarnai pemerintahan dari mulai tingkat terkecil hingga kenegaraan di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mewarnai dalam pengertian yang positif, yakni membawa pesan moral dan nilai yang sesuai dengan harkat dan martabat Bangsa Timur yang memegang teguh asas dasar keagamaan, Islam..

Kalau mau ditelisik lebih jauh, ikhwah Tarbiyah bukanlah “pemain” baru di ranah perjuangan dakwah intra parlementer ini. Karena sejak jauh sebelum kemerdekaan kita raih, peran ulama dan para santri tidak bisa dipandang sebelah mata, untuk mencita-citakan Indonesia merdeka dari penjajah (baca ulasan buku “Api Sejarah” karya Ahmad Mansur Suryanegara). Pun ketika masa awal kemerdekaan ini, tarik menarik ideologi sedemikian kuatnya sehingga terpolarisasi menjadi tiga kelompok besar: Nasionalis, Komunis dan juga Islamis…

View original 792 more words

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.