PENGGARIS Emas

Sumber Gambar dari sini http://images.mises.org/GoldenRuler.jpg

Angkat tangan baru berpikir apa yang hendak ditanyakan. Itulah konsep pemikiran yang selama ini saya gunakan untuk mendorong nuansa kritis itu bisa tumbuh dan mengakar dengan kuat di otak ini. Di kesempatan apapun itu, jika ada pemaparan dari pemateri siapapun saya menyimak lantas ketika ada waktu untuk bertanya, tak urung tangan kanan ini terangkat agar mendapat kesempatan untuk bertanya, mengemukakan pendapat ataupun menyanggah dari apa yang dipaparkan oleh pemateri.

Aneh? Ya, itulah kata yang sering terdengar dari mereka yang aku beri informasi tentang pola pikir dan pola kerja yang aku pakai. Dan tak jarang beberapa dari mereka menanyakan “bagaimana bisa menyusun pertanyaannya?”, dan tidak sedikit juga yang kemudian menganggap saya orang gila, nekad dan tidak tahu malu. Sempat dipikirkan juga akan apa yang mereka kemukakan, menyakitkan? iya ada beberapa, tapi lagi-lagi sepertinya konsep diri saya tidak mau terganggu gugat lagi. Dia terlampau mengakar dan sudah melembaga. Asyiiikkk. Hehehehe

Ini Adalah Taktik

Kenapa saya menyebutnya taktik? Lebih dipertegas lagi dengan penguatan yang di sajikan seorang pemateri ketika saya mengikuti DM2 di Lembang, sekitar sekitar 10 bulan yang lalu. Pak Puryodo menyampaikan “angkat tangan dulu, setelah ada kesempatan untuk bertanya, baru berpikirlah apa yang hendak kamu tanyakan”, nekad, itulah yang dipikir dari kebanyakan. Tapi sungguh, meski berawal dari terpaksa dulunya, kemudian saya merasakan kenyamanan atasnya. Beberapa event (atau jika boleh jujur, di hampir setiap waktu saya memilih untuk melakukannya). Bisa, tapi sejenak mengesampingkan dulu bagaimana kualitas pertanyaan yang saya ajukan. Karena bukankah sebuah pertanyaan itu tidak etis jika dinilai dari kualitas pertanyaannya? Karena pertanyaan seorang direktur keuangan yang menanyakan masalah terkait inflasi, ataupun seorang seorang sosiolog yang menanyakan masalah-masalah terkait altruisme pasti akan dianggap sebagai suatu yang “wah” oleh seorang pedagang, oleh seorang petani dan sebagainya. Asas perbandingan juga masih berlaku, manakala seorang petani menanyakan tentang apa yang dimaksud dengan inflasi, altruisme pada seminar yang sama maka besar kemungkinan pertanyaan yang diajukan akan dianggap oleh para ekonom maupun sosiolog tersebut sebagai pertanyaan yang rendahan. Sehingga benang merahnya adalah kualitas dari pertanyaan itu tidak etis untuk dijadikan indikator pengukur satu pertanyaan dinilai baik atau tidak, yang tepat untuk menilai pertanyaan baik atau tidak adalah sesuai dengan kebutuhan atau tidakkah substansi pertanyaan dari penanya tersebut. Hindari membuat pertanyaan yang menimbulkan kesan seolah dibuat-buat. Pertanyaan yang ada di dalamnya suatu muatan agar dinilai “wah” bagi orang lain, akan beda suasananya dengan yang lain. So, kembalikan pada niatan awal, sesuai dengan kebutuhan dan berangkat dari ketidak tahuan kemudian menuju ke perasaan ingin tahu atau tidakkah. Inilah indikator pertanyaan yang baik.

Kembali pada taktik yang saya maksudkan di sini yakni, memang benar nyatanya dengan kesempatan yang diberikan kepada saya untuk bertanya sedangkan stok pertanyaan belum saya miliki otomatis secara cepat saya dituntut untuk berpikir, mengkaitkan satu file yang saya dapatkan pada waktu itu dengan file-file lainnya yang sudah saya simpan di jauh-jauh waktu, baik dari baca buku, mendengarkan kuliah di kelas, mendengarkan kajian ilmiah ketika di organisasi maupun pengalaman-pengalaman lain sebagainya. Karena dengan dipaksa saya merasa berpikir ekstra.

Itu dulu lah sekiranya yang hendak saya bagikan. Berpikir kritis namun juga tetap mengenal akan sebuah makna penting dari etika. Luruskan niat kembali, jangan sampai pertanyaan atau pun kekritisan yang kita berikan hanya sebagai manifestasi atas rasa ujub, dhurur maupun takabur dan yang lainnya. Bawa penggaris emas, untuk meluruskan kembali niatan kita. Mencoba kritis untuk memaksimalkan otak yang dikaruniakan pada kita. Insya Allah, wallahu ‘alam bishshowab.

Bandung, 18 Maret 2012

23:09

Ern Hidayatul Ulya

Categories: Artikel Hikmah | Tags: , , , | Leave a comment

Post navigation

Ikhwah Berkomentar!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: