Cincin Ulang Tahun Pendidikan

Guys, selamat Hari Pendidikan Nasional …. ^^

Bulan April 2012, sebuah kado ulang tahun sudah disodorkan pada para ‘civitas akademika’. Dosen maupun mahasiswa. Tepat! Satu rancangan Undang-undang Pendidikan Tinggi yang sampai sekarang tengah digodok para wakil dan petinggi lainnya dengan tujuan agar ‘pendidikan semakin tinggi dan bergensi’. Terdiri dari XI bab dan 102 pasal, “Keren” dengan dalih perbaikan sistem pendidikan berikut tatanan – tatanannya. Kado – kado untuk pendidikan, apa prestasi yang sudah diraih dan bagaimana perkembangannya, sampai dengan susah payah kado itu dipersembahkan. Raport pendidikan adalah dokumen yang mungkin masih bisa kita buka untuk melihat fakta dan realita;

Raport – Repot Pendidikan

Beberapa tahun belakangan, gencaran baru sudah ramai dijalankan; adanya pendahuluan sebelum taman kanak-kanak, sebut saja PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) kemudian melaju ke ranah play group, beranjak ke SD (Sekolah Dasar), dewasa sedikit harus menempuh SMP (Sekolah Menengah Pertama) diteruskan ke SMA (Sekolah Menengah Atas). Bagi yang beruntung akan melanjutkan ke ranah PT (Perguruan Tinggi) skala negeri ataupun swasta, yang nampak laksana jamur di musim penghujan ‘kian waktu kian banyak dan membludak’. Kualitas urusan belakang. Sesuai dengan semboyan “Tut Wuri”,yang dibelakang.

Jer Basuki Mowo Bea

Melepas sejenak dari kata kualitas. Satu tawaran ritme dunia kelas dan sekolahan atau simpelnya kita menyebut dunia pendidikan adalah ‘lama dan mahal’. Mungkin dengan dalih awal adalah tidak ada suatu yang instan, sebagaimana mie yang dikatakan instanpun setidaknya harus menunggu 5 menitan untuk bisa disantap, terlebih dengan pendidikan yang memang sedari awal tidak pernah dianugerahi kata instan. Ia harus mengenyam waktu sekian dan sekian tahun untuk membumikan label ‘generasi berpendidikan’, karena juga tidak bisa dipungkiri secara berjamaah; negara tercinta sudah memberikan wacana maupun doktrin bahwasanya satu pendidikan yang lengkap itu harus menempuh rangkaian penuh yaitu dari PAUD sampai PT. Pendidikan formal belaka. Kalangan terdidik adalah kalangan yang berpendidikan, kalangan berpendidikan itu siapa? Mereka yang memiliki jenjang pendidikan sebagaimana yang telah dipatrikan secara nasional. Tidak lain dan tidak bukan berupa pendidikan formal. Konsep yang sampai sekarang masih terkenang dan diidentikan dengan Indonesia.

Karena lama maka tidak terlepas dari kata mahal. Itu adalah satu keadaan yang saling berkorelasi kuat. Tak ada makan siang yang gratis. Demikian pula dengan status pendidikan, semua harus berbayar. Mau pintar? Harus bayar. Apakah selamanya orang miskin dilarang untuk bersekolah? Apakah selamanya orang miskin tidak dikehendaki menjadi pintar. Terhitung 29,88 juta jiwa dari penduduk Indonesia adalah orang yang berada dalam ranah miskin, berarti angka seperti itulah yang akan menduduki grafik di BPS untuk kategori penduduk yang putus sekolah, penduduk yang tidak memiliki pendidikan, atau mungkin penduduk yang tidak pernah merasakan bangku pendidikan. Tapi selangkah lebih tanggap, ribuan otak berputar hingga tercetus program untuk rakyat dengan adanya Bantuan Operasional Sekolah. Syukur, ini bisa sedikit menyewakan oksigen bagi 29,88 juta jiwa tersebut untuk bernafas dalam bangku formal pendidikan.

Jika Piven dan Clowardn (1993) dan Swanson (2001), menjelaskan  bahwa kemiskinan berhubungan dengan kekurangan materi, rendahnya penghasilan dan adanya kebutuhan sosial. Yang selanjutnya bisa untuk dipastikan penyebab rendahnya penghasilan adalah pendidikan yang rendah atau sebut saja kualitas SDM yang minim terlebih dari penilaian aspek pendidikan. Inilah mata rantai yang belum bisa terputuskan, identik pendidikan rendah terhadap kemiskinan serta karena kemiskinan orang tidak bisa mengakses pendidikan. Dari mana akan ditemukan jalur solusi awalnya? Lagi-lagi karena lama dan mahal.

Mata Uang Logam

Laksana menanti sebuah peluang dengan melemparkan koin uang logam ke atas dan dengan harap-harap cemas menunggu manakah bagian yang berada di atas. Teringat sistematika yang ada dan seharusnya memang dipaksa untuk diterapkan di Indonesia adalah, mulailah berdayakan sisi lain pendidikan. Ada satu sisi kacamata pendidikan yang belum teroptimalkan, informal maupun kemasyarakatan. Satu tawaran konsep didikan yang bisa dijalani dan yang bisa ditawarkan untuk meningkatkan taraf dan kualitas SDM manusia-manusia Indonesia. PAUD – PT adalah sebuah ritme yang normal, namun jika penjangkauan tangan tak mampu untuk meraihnya, maka sisi informal dan kemasyarakatan ini masih bisa diberdayakan dan dioptimalisasikan. Dari sisi manapun asal bisa mencerdaskan maka masih bisa dijadikan sebagai satu solusi. Bukankah sebagaimana yang dikatakan William Butler Yeats bahwasanya “pendidikan tidak seperti isi sebuah ember, tetapi seperti cahaya dari kobaran api”?

Cincin Untuk Pendidikan

Banyak dilema yang sedang terjadi dan nampaknya memang akan terus berkepanjangan. Pendidikan yang lama dan mahal. Hari ini,  tanggal 2 Mei untuk kesekian kalinya diperingati sebagai hari pendidikan. Hari saat tunas-tunas dan civitas akademika menjajarkan diri dalam barisan di lapangan guna menyongsong satu agenda upacara peringatan. Kenapa diperingati? Karena masih ada harapan untuk mengadakan perbaikan. Semoga kita tidak lupa dengan satu kado ulang tahun yang semenjak April lalu telah disodorkan pada kita, sebuah kado besar yang dipermak dengan bungkusan indah. Rancangan Undang-undang Pendidikan Tinggi, yang mengatur segala peri-hal terkait keberjalanan ranah perguruan tinggi (universitas, institut, sekolah tinggi, akademi maupun politeknik). Terlepas dari pro dan kontra yang ada, namun sebuah keoptimisan akan kado ulang tahun tersebut akan terus tertingkatkan. Yakini bahwa kado itu adalah sebuah cincin. Jika Rancangan Undang-undang itu adalah satu i’tikad totalitas untuk mengadakan penyempurnaan jenjang pendidikan tanpa disusupi unsur ‘kepentingan’ niscaya akan menjadi sebuah perhiasan yang akan semakin mempercantik jari-jari pendidikan yang ada. Namun jika memang rancangan Undang-undang itu tertumpangi misi-misi miring dengan dalih perbaikan saja, maka ia akan mengikat jari pendidikan dalam bergerak, cincin yang akan membelenggu skala gerak dan keadilan. Mumpung masih ada waktu untuk mengusahakan penyikapan terkait dengan Rancangan Undang-undang, upaya itu  juga masih laksana pandir-pandir yang bisa mengasah ketajaman besi-besi senjata, agar masih memungkinkan kado ulang tahun pendidikan itu berupa cincin indah yang menghiasi jemari manis pendidikan. Salam kebangkitan dan spirit pembaharuan.

Gerakan Kader KAMMI Menulis by Erna Dwi Susanti

Kepala Departemen Humas dan Media Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) STKS Bandung

Aktivis Kementerian Pendidikan, Pelatihan dan Pengabdian Masyarakat BEM STKS Bandung

NB: Artikel ini pertama kali dipublikasikan di Mading Mahasiswa STKS Bandung pada tanggal 02 Mei 2012

Categories: Sosial dan Politik | Tags: , , | Leave a comment

Post navigation

Ikhwah Berkomentar!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: