Menyampaikan Pesan Kebenaran

Bismillahirrohmaanirrohiim,,

Puji syukur ke hadirat Allah atas rahmat dan hidayah-Nya saat ini kita masih mampu untuk menjadi tentara-tentara yang tetap setia membela agama-Nya sampai nafas di ujung tenggorokan. Hadiah spesial bagi manusia mulia di akhir zaman, Baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berupa sholawat serta salam senantiasa kita hadirkan kepada beliau, kepada seluruh keluarga, sahabat, tabi’it dan tabi’in, serta semoga sampai kembali kepada kita selalu umatnya yang terus berjuang membawa risalah Al Islam.

Rasulullah seperti yang terungkap di dalam Al Qur’anul Karim membawa tugas untuk menyampaikan kebenaran, “Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan”. (Q.S. Fathir: 35). Maka, kita sebagai umatnya tentu harus meneruskan penyampaian pesan kebenaran tersebut, meskipun Rasulullah telah meninggalkan dunia ini sejak lebih dari 1400 tahun yang lalu. Cukup mengagetkan ketika ada yang berpendapat bahwa ketika Rasulullah sebagai utusan Allah saja wafat, maka apalagi kita yang seorang manusia biasa, jadi tidak perlu lah meneruskan pesan kebenaran tersebut, karena toh pada akhirnya kita akan mati juga, dan belum tentu dunia menjadi damai setelah kita tinggalkan. Itu pendapat yang amat menyimpang dari kebenaran, mari kita teliti lagi peringatan dari Rabb kita, “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”. (Q.S. Ali Imran: 144). Oleh karenanya, mari kita semua sebagai umat muslim bersama-sama untuk mengucapkan dengan lantang dan meyakini dengan sepenuh hati dan jiwa kita, “Katakanlah: “Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi”. (Q.S. Saba’: 49).

Dalam konteks kekinian, tentu penyampaian pesan kebenaran ini tidaklah menjadi usang dan kemudian ditinggalkan. Sampai akhir zaman pun, penyampaian kebenaran ini harus tetap dilanjutkan. Perintah-Nya pula, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”. (Q.S. Ali Imran: 104). Tapi bagaimana cara menyeru yang baik dan benar ketika kemungkaran telah jelas-jelas nyata berada tepat di depan mata tanpa bisa kita hindari sedikitpun? Lihat saja para gadis yang berani seenaknya keluar rumah hanya dengan memakai celana mini tak jauh dari pangkal pahanya, riba telah menjadi hal yang biasa, para penguasa bertindak seenak hati tanpa memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Apakah memang sudah saatnya bertindak dengan jalan perang? Jihad yang sebenar-benarnya, yakni Jihad Qital? Hm, mungkin bagi kebanyakan orang saat ini, seruan jihad adalah suatu hal yang menakutkan. Barat telah membuat opini yang cukup diamini oleh orang-orang muslim sedunia bahwa mengartikan jihad=teroris atau dekat dengannya. Luar biasa mengerikan memang, dan kita sebagai umat muslim patut bersedih akan hal itu.

Berbicara mengenai jihad, sebenarnya ia merupakan term yang menunjukkan arti kesungguhan, jihad bisa menggunakan harta, jiwa dan raga seperti termaktub dalam firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar”. (Q.S. Al Hujurat: 15). Namun kita tidak akan membahas terlalu jauh mengenai jihad, ada baiknya kita bahas mengenai metode yang efektif dalam menyampaikan pesan kebenaran ini dikala kemungkaran telah merajalela. Teringat lagi firman-Nya, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Q.S. An Nahl: 125). Maka dengan demikian menjadi cukup jelas, mari kita menyeru dengan hikmah, dan di bawah ini akan saya paparkan sedikit tentang metode menyampaikan kebenaran dengan hikmah ini.

Mengutip taujih dari K.H Hilmi Aminuddin dalam Majalah Al Intima’ edisi Februari 2012 kemarin. Di sana beliau mengungkapkan bahwa memperhatikan idealitas, rasionalitas dan realitas dalam berdakwah itu sangat penting. Memperhatikan realitas saja akan melahirkan pragmatis, memperhatikan idealitas saja akan menghasilkan sikap perfeksionis tetapi tidak bisa dilaksanakan, dan ketika memperhatikan rasionalitas saja akan menghasilkan sebuah teori tok, tidak lebih.

Kita sepatutnya harus dapat mengkomunikasikan rencana kita baik internal maupun eksternal. Kemampuan mengkomunikasikan ini intinya terletak pada qudrah muqotobah: qaulan sadida atau kalimat yang tepat. Kalimat tersebut bisa saja bernilai tegas, lembut, sindiran, dan lain-lain. Namun patokannya hanya ada dua:

  • Khatibunnas ‘ala qadri uqulihim (Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar intelektualitasnya)
  • Khatibunnas ‘ala lughotihim (Berbicaralah dengan manusia sesuai dengan gaya bahasa mereka)

Sebagai seorang da’i tentunya kita harus memilih qaulan sadida melalui pendekatan intelektual, budaya atau sosial. Pertama-tama akuilah keberadaannya, kemudian cari cara yang tepat untuk mendekatinya, dan sampaikan inti dari pesan kebenaran tersebut secara perlahan-lahan. Dalam Al Qur’an juga sudah mencontohkan beberapa seruan, yakni ada yaa ayyuhannas dan juga yaa ayyuhalladziina aamanu. Dengan pemilihan kata yang tepat akan mampu menghasilkan kebaikan bagi diri sendiri maupun orang lain, dan yang lebih besar lagi, ampunan dari Allah Subhanahu Wata’ala.

Wallahu A’lam Bisshowab.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh

Gerakan Kader KAMMI Menulis by  Muhammad Joe Sekigawa, on 05 Mei 2012

Ketua Umum KAMMI STKS Bandung

Categories: Risalah Pergerakan | Tags: , , , | Leave a comment

Post navigation

Ikhwah Berkomentar!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: