Realitas Gerakan Mahasiswa di Kampus STKS Bandung

Bismillahirrohmaanirrohiim,,

Mahasiswa, sejatinya ia bukanlah hanya berperan sebagai seorang akademisi yang dalam frame kebanyakan orang tugasnya hanya belajar, masuk kelas, presentasi tugas, dapat IP bagus, lulus ujian Sidang, dan selesai. Cukup. Sungguh menyedihkan pemikiran yang semacam itu. Mengkerdilkan peranan besar seorang mahasiswa yang seharusnya ia kritis, analitis, objektif, kreatif, menjunjung tinggi kebenaran, menyuarakan keadilan dan mendorong terwujudnnya kesejahteraan bagi masyarakat. Tapi apa yang terjadi? Banyak dosen yang masih mengecap buruk seorang aktivis, ditambah lagi lembaga yang juga tidak pro mahasiswa aktivis ini dengan mempersulit proses-proses birokrasi yang cukup menjengkelkan.

Aaahhhh,, Tapi apa mau dikata? Inilah tantangan dan perjuangan yang harus dilalui oleh seorang aktivis, apalagi jika sedari awal, tujuannya untuk berkuliah tidaklah hanya belajar di kelas dan mendengarkan pengajaran dari dosen semata. Ada yang juga tak kalah pentingnya, yakni berkontribusi dalam suatu organisasi ekstra kampus.

Sejauh yang dapat ditelusuri, gerakan mahasisswa sebagai organisasi ektra kampus yang diikuti oleh mahasiswa STKS Bandung antara lain: Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia (HMI), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) dan juga Gema Pembebasan (GP). Selain ketiga organisasi ektra kampus ini, di STKS Bandung yang berkembang adalah Unit Kegiatan Mahaisswa (UKM) mulai dari bahasa hingga tarung drajat yang notabene peranannya hanya untuk individu dan kelompok saja. Tapi sungguh berbeda dengan HMI, KAMMI, dan GP ini. Apa sich bedanya? Mari kita lanjutkan pembahasannya di bawah ini.

HMI, KAMMI dan GP masing-masing telah mendirikan komisariat di STKS Bandung. Kemudian, mereka juga memang sebuah organisasi ekstra kampus yang sangat konsisten untuk memperhatikan isu-isu kritis terkait kebijakan pemerintah daerah, provinsi, maupun pusat. Memang seharusnya demikian sebuah mahasiswa berperan, selain aktif di kampus dengan prestasi gemilang, namun juga peka terhadap lingkungan sekitar dan kebijakan yang ada di sekelilingnya. Organisasi gerakan mahasiswa ini memiliki landasan dan tujuan yang jelas untuk memperjuangkan idealismenya guna turut serta membangun negeri.

Terkadang ada yang bertanya, HMI itu aktivisnya mahasiswa muslim, KAMMI juga aktivitasnya muslim, GP juga sama. Tapi kenapa sich kok membentuk nama/organisasi yang berbeda-beda? Bukankah persatuan itu lebih kuat? Kenapa malah mencontohkan ketidaksatupaduan? Padahal sama-sama seorang muslim kan? Nah, apakah ada yang bisa membantu menjawabnya? Eits, jangan salah, berbeda itu bukan berarti berpecah belah lowh. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam saja tetap memberikan label yang berbeda untuk menyebut kaum Anshor dan kaum Muhajirin, tapi adakah ada pertentangan di sana? Tidak sama sekali, karena kita semua telah dipersaudarakan dengan landasan iman.

Nah, yang perlu dipikirkan saat ini diantara para kader ketiga organisasi ekstra tersebut adalah mengenai keefektifan menjangkau teman-teman yang awam. Teman-teman mahasiswa di STKS Bandung dan masih belum menyadari peranan vital mereka sebagai seorang mahasiswa. Kesadaran itu harus digugah, dan itu butuh sinergitas dari para aktivis gerakan mahasiswa ini. Berbeda di satu jalan perjuangan tidak menjadikan kita lantas saling bermusuhan bukan? Orang awam saja sebenarnya paham akan hal ini, namun terkadang anehnya para aktivis yang tidak mau membuka diri. Merasa paling benar, merasa cara yang ditempuh itu paling efektif, merasa tidak perlu sinergi dan lain sebagainya. Namun rasanya tidak kok untuk ketiga organisasi gerakan mahasiswa yang telah saya sebutkan di atas.

HMI, KAMMI dan GP telah dipersaudarakan dalam satu landasan iman kepada Allah Azza wa Jalla. Tugas kita saat ini adalah mensinergikan cara untuk menarik kawan-kawan kita yang memang masih sangat awam untuk masuk ke dalam barisan. Tidak perlu berebut kader, ada saatnya kita berpegang erat bersama-sama, dan ada kalanya memang harus menjalankan sistem kaderisasinya sendiri-sendiri. Toh intinya sama-sama menyadarkan mahasiswa yang tengah terlelap itu bukan? Jadi tidak perlu saling menyerang dengan berusaha membuktikan/menampilkan kepada khalayak tentang kejelekan-kejelekan dari masing-masing organisasi, atau bahkan saling mencari kesalahan untuk ditampilkan kehadapan umum. Itu cara-cara kurang bermartabat ya menurut saya, setuju? ^_^

Baik, ke depannya saya harap HMI, KAMMI dan GP mampu ikut membangun potensi kesadaran mahasiswa atas peranan vitalnya, tidak hanya berhenti pada diskusi di kelas atau nilai cumlaude dan pujian dari dosen, namun sejauh mana kita sebagai mahasiswa bisa memberikan kontribusi nyata atas ketidakadilan dan kesengsaraan rakyat yang membutuhkan bantuan nyata dari kita.

Salam hangat dan semangat selalu untuk membangun negeri berperadaban

Gerakan Kader KAMMI Menulis oleh Muhammad Joe Sekigawa pada 09 Mei 2012

Ketua KAMMI STKS Bandung

Categories: Risalah Pergerakan | Tags: , , , , | Leave a comment

Post navigation

Ikhwah Berkomentar!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: