Keikhlasan dalam Beramal

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!

Kaum hawariyin, sahabat perjuangannya Nabi Musa ‘alayhi salam. Sebagaimana dalam akhir Al Qur’an surat Ash Shaff.  “Kami adalah penolong-penolong dan pejuang-pejuang agama Allah”, so ayo kita dengan lantang dan tegas berucap sebagaimana yang dikatakan oleh kaum tersebut. Bangga dengan perjuangan kita. Ikrarkan usaha dan semangat kita atas iktikad berjuang pada jalan Allah. Banggalah berada di jalan ini, senyum, dan berbahagialah.

Alhamdulillah, Allahuma sholi’ala muhammad wa ala ali Muhammad. 

Dalam sebuah ayat dikatakan “Ummat yang terbaik”, “permisalan orang yang berdakwah itu layaknya pohon, akarnya kuat dan daunnya menjulang sampai ke langit (ia kokoh)”. Oh ya perkenalan dulu, “saya bukan ustadz tapi saya adalah engiiner dari IT Telkom”. Karena di sebagaimana yang ada di parlemen, “jangan semuanya jadi ustadz tapi harus punya kelebihannya dalam kinerja masing-masing”. Layaknya Presiden Dr. Mursi di Mesir, yang ketika merekrut di pemerintahan seharusnya sesuai dengan profesionalnya tapi karena bisa merangkul semua lini maka kesempatanlah ikhwah bisa masuk di dalamnya. Ini berawal dari mereka yang profesional pada bidangnya. (Jadi ustadz itu kewajiban bagi semua, namun kembali, bekali kita dengan profesionalitas dalam bidang keilmuan-keilmuan yang lainnya). 

Masuk pada materi dengan tema “Keikhlasan dalam Beramal”. Teringat kisah Ali yang sedang berperang dengan musuhnya. Saat itu posisi Ali dalam keadaan yang menang, satu kesempatan sang musuh meludahi Ali namun Ali berhenti dan tidak membalas untuk membunuhnya, padahal kalau mau ali sangat berkesempatan untuk membunuhnya. Lantas kenapa Ali tidak melakukannya? Ali takut tercampurinya niat karena Allah dengan emosi amarah dari hawa nafsunya.

Pondasi yang Kuat dan Kebermanfaatan 

Sebagai da’i cobalah untuk kuat, yang memberi manfaat pada semua orang. Akarnya menghujam kuat dan cabangnya menjulang ke langit. (maaf kalau salah, karena saya bukan ustadz tapi jangan jadi dalih kita untuk tidak faqih dalam agama kita hehehhe).

Alkisah, seorang mentee mendatangi dan tanya pada ustadznya tentang kegersangan ruhiyah yang dialaminya. Sang ustadz menjawab; “Aktivitas yang kita lakukan dalam keseharian itu adalah buah dari amaliyah ruhiyah kita”. Pertanyaan besarnya adalah; kalau kita punya aktivitas yang besar lantas tidak memiliki amal ruhiyah yang kuat akan jadi seperti apa?

Dalam hadist ‘Arbain poin pertama juga menjelaskan tentang niat. Ada apa sebenarnya denngan niat? Niat pegang peranan penting dalam pelaksanaan kegiatan lho. Dan di hadist lain masih dalam ‘Arbain; syarat diterimanya amalan yang diterima adalah niat yang lurus dan amalan yang benar. Ikhlas itu angka 1 dan 0-0-0 di belakangnya itu tidak akan membawa manfaat kalau tidak ada 1.

Allah tidak akan melihat fisik kita, tampan, kaya atau material lainnya. Tapi Allah melihat ketaqwaan kita. Seperti kisah seorang sahabat yang menertawakan seorang sahabat lain (yang notabene adalah ahli hadist) kala memanjat pohon dan tersingkap kain sampai terlihat betisnya dan ditertawakan oleh para sahabat-sahabatnya yang lain. Kemudian Rasulullah menegur para sahabat dengan sebuah ucapan “Sahabatku, jika betisnya ditimbang niscaya akan melebihi beratnya gunung uhud”. Di sini yang dimaksudkan rasulullah bukanlah fisik sebagai ukuran, namun adanya kadar ketaqwaanlah yang membedakan seorang dengan yang lainnya. Satu hamba hanya akan terbedakan dari kadar ketaqwaan pada Tuhannya.

Kalau kita beramal hanya ingin dilihat orang lain maka itu akan dimudahkan oleh Allah agar sesuatu itu dilihat oleh orang lain dan memujinya. Dan akhirnya orang tersebut hanya bisa mendapat pujian dari orang lain. 

Wahai Rasul bagaimana kalau orang ingin beramal hanya untuk Allah dan kemudian dilihat orang lain tanpa sengaja. Dijawab, wahai sahabatku “itu adalah kegembiraan awal yang diberikan oleh Allah untuk kita”.

TANYA JAWAB:

Seperti apa tips-tipsnya agar bisa ikhlas? (Joko Setiawan)

Jawaban: satu hal yang sering kita lupakan yakni untuk mengulang-ulang dalam setiap aktivitas kita ‘hidup ini hanya sementara’. Kalau kita hidup hanya untuk dipuji-puji saja itu dirasa kurang visioner. Mumpung ada kesempatan dan semoga ada manfaatnya.

Pencitraan bagaimana mengkaitkan dengan keikhlasan?

Jawaban: pencitraan itu untuk memberi warna yang jelas tentang organisasi kita. Terlepas dulu dari bagaimana masalah pencitraan. Tapi pencitraan yang sejatinya baik itu menceritakan tentang kondisi pasti dan kebenaran yang ada di dalam wadah tersebut, bukan kebohongan dan bukan aib. Jangan berikan pencitraan yang kosong. Dalam konteks demokrasi kita sangat membutuhkan pencitraan yang demikian. Kalau orang yang kiri saja mencitrakan dari emas kebobrokannya, sedangkan orang baik hanya diam dengan kesholihannya maka harusnya berintrospeksi dan apa sekiranya yang bisa dilakukan kita. Berikan contoh dan citra yang baik, bukan citra yang omong kosong.

Kalau melakukan riya’ dan kalau tidak melakukan itu musyrik; Ababil ini kiranya gimana? Yang paling baik itu bagaimana? (Tere)

Jawaban: tetap saja beramal, karena ingat hadist yang tadi; itu merupakan kebahagiaan awal dari Allah (syukuri saja, itu namanya bonus)

Kondisinya ibadah “ada awal-tengah dan akhirnya”, kalau awal dan akhir ikhlas tapi di tengah sempat untuk tidak ikhlas. Bagaimana ibadah tersebut? (Erna)

Jawaban: barang siapa berniat ibadah tapi tidak dilaksanakan maka ia akan dinilai satu kebaikan yang penuh, dan barang siapa berniat kebaikan dan melaksanakannya maka ia akan diganjar 10-700 kali lipat kebaikan yang diniatkannya tersebut. Kalau niat keburukan dan tidak dilakukan maka akan dinilai satu kebaikan yang penuh. Dan kalau dia berniat keburukan kemudian dilakukan maka akan dinilai sebagai satu keburukan atas yang diniat dan dilakukannya. Kita dimasukkan ke syurga itu bukan karena amal kita, tapi karena ridho dari Allah. 

CS: Beramallah kalian tapi jangan sampai menghambat kalian untuk menuntut ilmu. Menuntut ilmulah kalian tapi jangan sampai menuntut ilmu itu menghambat kalian untuk beramal. 

Report Kajian Pagi Kmisariat ITB-STKS | 22 September 2012 | Ern

 

 

 

Categories: Kegiatan KAMMI, Tsaqofah Islamiyah | Tags: , , | Leave a comment

Post navigation

Ikhwah Berkomentar!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: