67 Tahun Merdeka

67 Tahun Merdeka

Merdeka! Merdeka! Alangkah merdu teriakan ini berkumandang di telinga Indonesia dari seluruh pelosok Nusantara dalam gegap gempita dan prahara 45-an. Pekik merdeka yang mempesona memukau pikiran, jiwa dan hati seluruh rakyat kita. Enam puluh tujuh tahun! Pekik merdeka yang diteriakkan dalam gairah perjuangan yang melonjak ke langit biru. Pekik merdeka yang dijeritkan dengan dahsyatnya dalam pertempuran-pertempuran melawan serdadu penjajah yang hendak menginjakkan kakinya kembali di tanah air Ibunda ini. Pekik merdeka yang dierangkan dari mulut yang komat-kamit menunggu sakaratul maut mencabut nyawa pejuang muda yang rubuh kena peluru musuh.

Merdeka! Di dalamnya terkandung janji-janji hidup baru bagi bangsa! Dari rakyat yang hidup segobang sehari menjadi manusia yang hidup layak dalam kemuliaan manusianya. Kata merdeka yang membayangkan hapusnya rodi, hapusnya paksaan, hapusnya penghinaan, “Verboden voor hoden en Inlanders!”, hapusnya kegelapan, hapusnya kejahilan, hapusnya tawanan politik dan tempat pembuangan, hapusnya pemerasan, hapusnya kesewenangan  kekuasaan!

Mampu bebas dan merdeka dalam hakikat makna yang sesungguhnya, menuntut dengan tegas dan lantang, Verboden voor hoden en Inlanders!

Merdeka yang menjanjikan kebebasan rakyat dari kegelapan dan kemunduran, dari kemiskinan dan kezaliman, kebahagiaan, kemakmuran yang merata, kebebasan menyatakan pendapat dan pikiran, keadilan sosial dan ekonomi! Merdeka yang menjanjikan satu hidup baru yang terang cemerlang. Dan kinipun di edisi kemerdekaan yang ke enam puluh tujuh tak kalahnya memberikan halu dan arahan; Dengan Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, Kita Bekerja Keras untuk Kemajuan Bersama, Kita Tingkatkan Pemerataan Hasil- hasil Pembangunan untuk Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat IndonesiaEnam puluh tujuh tahun terus berlalu! Merdeka masih mengandung janji-janji belaka bagi sebagian besar rakyat Indonesia, hanya sekokoh janji suci kesejahteraan tanpa mengarah pada i’tikad pelaksanaan. Diam di tempat, sibuk mengaca pada sejarah, sedih, mengalun sendu berkelanjutan tanpa adanya usaha perbaikan, pembenahan ataupun pembaharuan. Merenung tanpa tertegun.

Bagi setiap orang Indonesia yang hidup sejak jaman penjajah merasakan getir dan pahitnya nasib rakyat yang dijajah, seorang anak masih bisa merasakan perihnya penderitaan orang tua, seorang cucu masih sakit mendengarkan cerita tentang kakek-neneknya, tentang mereka yang terjajah, yang meringkuk di bawah kezaliman dan kebuasan penduduk kaum fasis militer Jepang, yang lewat dari penjara ke penjara selama jaman-jaman itu dan kemudian ikut merasakan kegairahan berjuang mempertahankan proklamasi kemerdekaan, melewati tahun-tahun kemerdekaan yang terkadang diistilahkan mengisi pembangunan sampai dengan masa yang sekarang. Saat pembangunan telah hadir, menumpuk, tertumpuk dan terkesan tanpa perencanaan. Bagi mereka yang telah merasakan perjuangan selama enam puluh tujuh tahun merdeka di tahun 2012 ini pasti menimbulkan perasaan yang penuh, bercampur baur. Rasa bangga melihat bangsa yang telah merdeka. Bercampur dengan rasa syukur pada Tuhan yang telah melindunginya melewati jaman-jaman penuh bahaya dan ancaman demikian banyaknya. Ditambah dengan rasa sedih melihat betapa sedikitnya janji-janji merdeka yang terlaksana di enam puluh tujuh tahun ini. Dicampur pula dengan rasa frustasi melihat alangkah banyaknya kita sejak tahun 1950 memboroskan kesempatan dan kemungkinan, pikiran, tenaga, dan waktu karena kegagalan kita menyusun pemimpin negara dan bangsa yang sepenuhnya mengabadikan diri pada kemajuan bangsa dan negara kita.

Kita semua patut menundukkan kepala dan mencoreng arang hitam di kening, mengakui kealpaan dan kesalahan kita! Nafsu-nafsu kita hendak berkuasa, hendak menang sendiri, hendak menumpuk kekayaan di atas kekuasaan, ambisi-ambisi pribadi yang tak kenal batas, adalah godaan-godaan yang tak kenal batas, adalah godaan-godaan yang tak terkendali selama ini. Kita juga dalam mnengok ke belakang selama enam puluh tujuh tahun yang lampau, melihat satu panorama yang menyedihkan, di mana mereka yang punya potensi jadi pemimpin bangsa hanya bergerak terhuyung dan tergapai-gapai tanpa perencanaan, tanpa konsep yang tersusun rapi dan matang terpikirkan, hanya bereaksi pada situasi-situasi yang baru di dalam negeri dan dunia yang membawa seluruh bangsa pada bencana rezim sebelumnya.

Patutlah kita semua kini mencoba membersihkan diri kita kembali, mengingat kembali tanggung jawab kita pada keselamatan seluruh rakyat dan negara. Patut kita mencoba menyegarkan kembali semangat pengabdian pada kemajuan rakyat.

Indonesia kini sungguh memerlukan orang yang berjiwa besar dan berpikiran besar. Tantangan yang menunggu kita menjelang tahun 2050 memaksa kita meninggalkan kepicikan pertimbangan pribadi atau kelompok sendiri.

Sukses atau kegagalan kita mengembangkan diri kita agar bebas dari pikiran dan jiwa picik dan hanya memikirkan kepentingan diri dan kelompok sendiri akan menentukan secara berarti sekali apakah bangsa kita akan ikut mengecap kemajuan dunia, atau apakah bangsa kita akan tertinggal terapung-apung tak terarah dalam pusaran air keterbelakangan sejarah.

Enam puluh tujuh tahun merdeka kami sambut dengan air mata tergenang mengenang kawan dan saudara, ayah, ibu, kakak dan adik, suami, istri, kakek, nenek dan tunangan yang telah berguguran di medan pertempuran kemerdekaan selama ini.

Semoga kita yang masih hidup kini tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan jiwa raga mereka.

Tuhan Yang Mahakuasa, ampuni kami yang telah berdosa selama enam puluh tujuh tahun menyia-nyiakan karuniaMu pada bangsa kami ini, kemerdekaan bangsa yang telah Engkau limpahkan pada kami.

Tuhan Yang Mahakuasa, terangilah pikiran dan jiwa pemimpin kami yang berkuasa hari ini, turunkan rahmatMu pada mereka dan rakyat kami, supaya kami tidak berdosa lagi memperkosa karunia-Mu pada kami!

Dan sekiranya refleksi ini akan tetap membersamai kita, seolah jalan ditempat tentang keadaan Indonesia atau bahkan terjun bebas ke lembah nadir diakui oleh besar bagian dari rakyat Indonesia. Karena kelemahan itu terkadang juga mengantarkan Indonesia pada kecil hatinya, pada perenungan yang tak kunjung pada pembenahan dan hanya berada pada tudingan dan tudingan akan kesalahan masa lalu dalam balutan sejarah panjang kemerdekaan.

Kini, jika memang Indonesia masih diijinkan untuk bermimpi pada pemerataan keadilan bagi setiap golongan dalam fase pengisian pembangunan kemerdekaan. Maka, teruslah bermimpi yang tinggi wahai rakyat Indonesia, bermimpi untuk kemerdekaan yang sesungguhnya bagi bangsa kita. Kemerdekaan tanpa kedustaan, kemerdekaan tanpa adanya duri-duri penindasan, kemerdekaan tanpa adanya kemunafikan dan tanpa ada pembodohan yang berkelanjutan. Optimislah, negara kita masih berkesempatan untuk itu. Bergerak, melompat dan berlarilah…

*Mengenang petuah Mochtar Lubis bersama sajak 25 Tahun Merdekanya

Ern Hidayatul Ulya, Bandung, 16 Agustus 2012

Ditulis oleh Ern Hidayatul Ulya, Kepala Divisi Humas dan Media KAMMI STKS Bandung dan dipublikasikan pertama kali pada hari Kamis, 16 Agustus 2012 di notes FB di sini http://www.facebook.com/notes/ern-hidayatul-ulya/67-tahun-merdeka/10151088881042974

 

 

 

Categories: Sosial dan Politik | Tags: , , | Leave a comment

Post navigation

Ikhwah Berkomentar!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: