Ah, Sulitnya Menolak!

Ah, Sulitnya Menolak

Layaknya cucian yang sudah seminggu diangkat tapi belum disimpan di lemari, ah, jangankan di simpan dalam lemari, dillipat dan disetrika saja juga belum. Singkatnya akan dilihat sangat kusut dan penuh lipatan di segala permukaan. Sama seperti wajahku saat terketukkan pintu dan mencoba keras menghadirkan kehangatan untuk menghadirkan salam pada bu Lik.

Kenapa mbak?” tanya bu Lik tampak dengan penasarannya.

Gak apa-apa bu Lik, Cuma tadi kebawa stress dan emosinya pak sopir angkot,” jawabku singkat dan tak panjang-panjang langsung menghamburkan badan di atas kursi. Lelah setelah berlarian ke depan-belakang ke kanan ke kiri, ke ruangan ke lapangan buat ngejalanin amanah yang coba dinikmati, apalagi kalau tidak ngurus bimbingan belajar adik-adik SMP dan SMA. Meski menguras tenaga dan segenap energi tapi entah dari mana ada sumbangan energi terasa begitu mudah untuk membawa bingkisan senyum ke dalam angkot dalam perjalanan pulang. Senang bisa menatap wajah ceria mereka, wajah ramah para pengajar dan wajah seorang yang tampak senyum-senyum memperhatikanku. Hmm, ssttt sudahlah aku akan sangat salah tingkah kalau berkepanjangan harus membahas dan mengulas tentangnya, tentang seekor kucing kecil yang menemani kesempurnaanku hari ini.

Dengan senyum manis dan sangat manis mulai kuberhentikan angkot Caringin-Sadang Serang, ya tak salah pilih karena memang angkot inilah yang akan mengantarkanku dari ITB menuju ke rumah bu Lik di daerah Tubagus Ismail. Dari waktu maghrib sudah jalan beberapa menit, hampir mendekati waktu isya baru bisa pulang ke rumah. Sudah tertebak apa yang pasti akan aku hadapi dalam perjalanan nanti, macetnya kota Bandung.

Tepat, jarak yang tak lebih dari 10 km harus aku tempuh hampir 30 menit perjalanan dengan angkot. Macet, meski belum mampu menandingi cerita kemacetan ibukota negara tapi kemungkinan beberapa waktu mendatang akan menyerupai atau mungkin melebihi kemacetannya. Inilah calon Ibukota Indonesia. Sepertinya. Hehehhe

Sopir, saat ini beliaulah yang akan menjadi objek pembicaraanku kali ini. Seharian harus malang melintas arus jalanan Bandung, dari pagi-siang hingga bahkan malam. Tak banyak yang diharapkan, hanya mengejar setoran untuk mendapatkan penghasilan. Inilah profesi sebagai sopir angkot.

Dengan pakaian seragam biru muda dan biru tuanya, tak jarang umpatan kesal dengan mobil di hadapannya yang tidak segera tancap gas waktu lampu sudah hijau menyala, saat ada sepeda motor yang sedikit lebih kencang dalam mengendarai kendaraannya daripada beliau, saat penumpang minta berhenti masih tidak dihentikan tapi masih ringan mengumpat karena kekesalannya. Diiringi dengan kesempurnaan kejenuhan dalam pelampiasaan lewat asap yang terkebul dari hidung dan mulutnya; tak salah lagi itulah asap kebanggaan para pria sejati. Rokok.

Nuansa tegang karena kendali-lepas rem kurang terasa mahir termainkan diimbangi dengan emosi yang menggebu dominasi kemarahan membuat penumpang hanya diam dan penumpang yang keseluruhannya adalah mahasiswa tersebut hanya bisa berpegang erat tangan kirinya, memegang dada bagian tangan kirinya dan bibir-bibir itu tak henti-hentinya mengucapkan istighfar dan mohon ampunan atas keadaan, mohon diselamatkan.

Memang terkesan janggal dan setengah-setengah. Di lain sisi mulut sibuk beristighfar namun hati dan otak ini terasa memanas dengan tingkah ugal-ugalan sopir kendaraan. Apa maksud sopir ini ya Rabb? Gelisah, takut, cemas dan segalanya membaur jadi satu dan terpusat pada wacana “hidup” atau “mati”. Ingat Allah.

Itulah, karena marah mudah sekali untuk tertularkan. Emosi amarah sopir dengan mudah menjalar dan menawarkan diri untuk hinggap di pundak dan merasuk dalam hati para penumpang yang telah menjadi saksi. Ikut meluapkan emosi kemarahan. Ah, memang terlalu sulit menolak ajakan dan tawarannya. Ia begitu menggoda dan tak ada jalan kuat yang bisa diupayakan selain menguatkan ruhiyah untuk membuat perisai penangkal amarah. Jadi kalau dapat rayuan dan tawaran gombal dari emosi amarah kita bisa dengan santai dan cool mengatakan. “Maaf ya, saya tidak bisa menerima”. Ihir.

Ern Hidayatul Ulya @ Tubagus Ismail, 18 Sepetember 2012 pukul 22:24

Ditulis oleh Ern Hidayatul Ulya, Kepala Divisi Humas dan Media KAMMI STKS Bandung dan dipublikasikan pertama kali pada hari Rabu, 19 September 2012 di notes FB di sini http://www.facebook.com/notes/ern-hidayatul-ulya/ah-sulitnya-menolak/10151148470987974

 

 

 

Categories: Artikel Hikmah | Tags: , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Ikhwah Berkomentar!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: