Masih Pantas Merindu

Masih Pantas Merindu

Layaknya sebuah alarm yang disetting untuk membangunkan lelapnya tidur malam dan permintaannya agar aku segera bangun, beranjak dan terjaga. Kini, satu alarm itu telah mengusik dan menggelandangku menikmati petuah emas dan cerdas dari ia, sang kekasih titipan dari-Nya, saudara dan juga pelita. Kakak dan setahun kenangan di momen penjagaannya. Antara aku, dia, amanah dan cinta…..

Kakak : “Engkau adik manisku, tak akan kurela engkau tersakiti oleh kumbang-kumbang itu lagi.”

Adik : ”Bukankah aku harusnya mencari pengalaman agar suatu saat nanti kudapat yang terbaik kak?”

Kakak : ”Seribu darinya belum tertemu yang benar ingin mejagamu”

Adik :”Lantas,  adakah aku salah?”, perlahan kubisikan juga pertanyaan pada relung hati di qalbu ini.

Kakak : “Tidaklah, manis. Engkau masih belum mengerti benar akan rasa itu, kau memaknakan sebahagian saja, apa yang engkau rasakan saat dia pergi dan saat dia pertama kali datang?”

Adik : ”Dan sungguh kakakku, perasaan itu terlalu agung, tiada aku sanggup menyuarakannya. Tampak  bahagia ketika ia datang, dan hancur terkeping saat dicampakkan.”, dan lirih aku menghayatinya.

Kakak : (Tersenyum) ”Itu secerca yang engkau tahu, manis. Cinta yang engkau rasa hanya sebatas gulat pedarnya emosi, aku takut engkau dikuasai oleh ambisi. Dan sungguh melihatmu getir merasai luka membuat tubuh ini ngilu mengikutinya.”, haru terdengar dipoles penguatan dari tetua pada adindanya.

Adik : ”Bagaimana dengan rasa bahagia yang kudapatkan kak? Akankah ada tubuhmu tersapa rasa suka karenanya?”

Kakak : ”Aku cemas, engkau terbuai dalam emosi dan dikendalikan nafsumu. Aku lebih tersiksa jika tak ada usaha  mengajakmu beranjak pergi dan menghilang dari amuk amarah atas masuk dosa besar yang Allah peringatkan.”

Adik : ”Engkau kakakku, apakah tak percaya jika jiwa ini  bisa menjaga raga?”, desakku untuk diikhlaskan karena pembelaan.

Kakak : “Adikku, sungguh setan itu bermuka dua lagi bermulut manis. Aku tak yakin kau bisa lihai mengelakkan sapuan manis darinya saat rasa bahagia itu menjadikan nafsu kian giat begejolak.”

Adik : “Tapi kebahagiaan itulah yang menghidupkanku kak, bukankah engkau senang melihatku bahagia tanpa nestapa?” lagi-lagi aku tak gentar mendesak keikhlasannya.

Kakak : “Sungguh melihatmu bahagia adalah hal terindah dalam hidupku, manis. Tapi jika kebahagian itu hanya seleksa fatamorgana? Apa artinya? Sedang  kepedihan mengelus pundakmu selalu, akankah bisa aku tetap senyum dan menatapmu lega bahagia?”

Adik :  “Tapi kakakku, banyak kawan  telah bahagia saat cintai menghampiri mereka. Apa benar mereka tiada mencecap cita suka?”

Kakak : “Benarkah mereka selalu bahagia? Tidak teramatkan mata ketika mereka dijamah oleh tangan-tangan  yang tak selayaknya itu? Terobral dengan murah oleh penawar di emperan? Atau ketika mereka lupa akan siapa mereka dan siapa di samping mereka hingga tidak ada izzah antara keduanya? Sungguh Allah saja melarang kedekatan itu. Saat tanpa ada jarak dalam hijab, saat tak ada mihrab dalam singgasana cinta, tanpa ada ikatan suci mereka berani.”

Adik : “Kakak hari ini telah kulihat, mereka bahagia tapi ketika kulihat mereka menangis dan aku berkata “Ada apa denganmu?” dan mereka menjawab “Tidak, kebahagiannku hilang dan aku telah merasakan sakit yang teramat sakit” tapi kemudian masih melanjutkan senyum manis itu, tampaknya mereka masih bahagia, kak!”

Kakak : “Dindaku, wanita adalah makhluk Allah yang pandai menyembunyikan perasaan, mereka mampu menyembunyikan perasaan mereka 40 tahun lamanya,namun kebencian tak pernah bisa mereka tahan barang sedetik saja”

Adik :”Lalu, ketika lelaki itu mendekat apakah yang harus aku lakukan,sedangkan perasaanku sering tidak menentu dalam hingar bingar ujian kesanggupan, kak?”

Kakak : ”Lakukan tabayyun hatimu dan berhijablah secara sempurna atas keberadaannya dan atas iktikad tanda tanyanya. Jika ia merayumu dengan ucapan yang manis dan tidak segan-segan menyentuhmu, lanjut tidak ada penjagaan izzah di antara kalian sungguh ia bukan lah lelaki yang ingin memilikimu untuk selamaya. Tiada pernah ingin mendapat kesucianmu, karena menjaganya saja ia enggan.”

Adik : “Lalu? Seperti apakah gerangan lelaki yang baik untukku?”

Kakak : “Dia yang tak berani merayumu, mendekatimu dan menyentuhmu”

Adik :” Lantas bagaimana pula aku tahu, apakah dia menyukai aku atau tidak?”

Kakak : “Percayalah saat ada yang hanya takut mengganggu ibadahmu, dia percaya Allah akan menjagamu untuknya jika engkau benar-benar di takdirkan untuknya, dia tak akn mengutarakan cintanya karena ia percaya sepenuhnya pada yang membuat semua menjadi ada, ia akan tegar menanti sampai jatuh masanya”

Adik : ”Lalu apa yang ku lakukan di kesendirian ini wahai kakak? Lihatlah dunia saat ini penuh dengan iming-iming kebahagiaan cinta, aku hanya manuasia biasa, imanku tak akan terus berada di puncaknya, kata ustadz ia akan bergejolak dalam ketaatannya”

Kakak : “Wahai adindaku yang manis bertawakallah pada Allah, serahkan, percayakan semua pada-Nya, jadilah wanita shalihah yang hanya berkomitmen pada Islam, senantiasa berdoalah agar lelaki yang menemanimu nantinya adalah lelaki shalih dan berakhlak mulia, yang selalu berhusnudzon atas segenap ketetapanNya  di setiap perjalananmu”

Adik : “Kakakku yang kusayang, di tengah dunia yang dipenuhi pernak-pernik cinta semu, aku ragu untuk melangkah sendiri tanpa seseorang yang menjagaku, menasihatiku, dan menyayangiku sepenuh hati.” memelasku

Kakak : “Wahai adikku yang manis dengarkanlah kakak, tak akan kakak melewatkan satu jengkal saja langkahmu, kakak akan selalu menemanimu, karena kebahagiaanmu adalah syurgaku, dan ketika engkau sudah bersama lelaki terbaik itu, mungkin inilah saat terakhir kakak memberimu petuah, karena atas ijin dan keridhoan dari Allah kau akan punya penjaga yang akan selalu setia menjaga dan menyayangimu, menuntunmu dalam seru ketaatan kepadNya. Saat hanya karena Allah semata. Fillah, Billah dan Lillah”.

Adik : “Sungguh beruntunglah aku yang tertakdir kan memiliki kakak sepertimu, tak akan lagi ku biarkan kumbang-kumbang itu merengkuh sari-sari amanah Rabbku, akan ku siapkan sebaik mungkin untuk sang kumbang pilihan”

Aku yang merindukan petuah dari kakak tercintaku.

Teredit dari note adikku; Aldy Devi

Ditulis oleh Ern Hidayatul Ulya, Kepala Divisi Humas dan Media KAMMI STKS Bandung dan dipublikasikan pertama kali pada hari Kamis, 20 September 2012 di notes FB di sini http://www.facebook.com/notes/ern-hidayatul-ulya/masih-pantas-merindu-/10151149533107974

 

 

 

Categories: Artikel Hikmah | Tags: , , | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Masih Pantas Merindu

  1. Pingback: Masih Pantas Merindu | celotehpangkep

Ikhwah Berkomentar!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: