Memilih Karma

Memilih Karma

Bising masih terdengar melekat di pelataran. Meski semua telah lama pamit dari persinggahan. Diajak membahana dan melanglang memecah buana. Prahara masih bijak menetap di sini, dalam bincang kasih antar aku, dia dan masa laluku. Senja. Tak lain hanya kisaran ini yang menjadi bahasan pelabuhan dan banyak dermaga. Senja yang melapuk, prahara yang menghujam. Senja kuning dan praharanya.

***

Menutup tak selamanya dapat menyembunyikan aib, kubongkar perlahan agar mereka terpahamkan. Meski berat dan lekat menganggakat, namun setidaknya aku masih bisa menyeret menepis hina dan cela. Kembali, meski memang ini salah tapi aku hendak belajar tanggung jawab dan mencicil menerima karma.

“Mbak, nek neng Mbandung ngono wi ngontrak pertahune piro?”, sapaanku dalam kebinggaran malam itu. Lama tak bersua dengannya, kakak sepupuku, sepupu jauhku. Meski sering pulang tanpa  ada yang mengawali tak pernah kami sandarkan bahu bersama, layaknya malam itu. Meski hanya layak mengenang janjinya padaku untuk menjadi seorang kakak dalam nasehat ke-ibuannya dikala Bunda tiada. Berjanji akan menemani dan mengawasi kehidupanku, aku tak menuntut agar ia duduk dan tinggal senantiasa bersama denganku, membersamai layaknya seorang ibu. Tapi, tegur sapa, sms motivasi atau wujud manis perhatiannya pun tak pernah kudapatkan. Hingga karena itu jua, mungkin kini  sudah salah menjemput takdir sampai aku wajib tegar menerima karma.

Kubangan karma yang perlahan menjeratku dengan kata mesra, bisik cinta dan kesenduannya. Menjalani waktu terberat sebagaimana beban anak 12 SMA, menghadapi momok UN, monster SNMPTN dan entah masih berjuta tantangan di depan. Lapuk tak akan bisa membersamaiku agar tegar menghadang dan keluar sebagai pemenang dalam kancah peradaban itu. Aku hanya selaksa pecundang yang terbuai dalam keterasingan. Tanpa kehadiran Ayah dan Bunda. Merawat seorang adik jelmaan nyawa bunda. Taruhan hidup yang dilepas sengaja untuk anaknya. Fito, inilah nama hangat yang kerap aku sandangkan untuknya.

“Nek ning kono masak dhewe opo tumbas mbak? Terus isuk tangine jam piro?”, tambah pertanyaanku yang meski tak kunjung dijawabnya. Ia kian sibuk dengan buku tebal di hadapan dan laptop di samping kirinya. Dari dulu, tak berubah hobi baca dan menulisnya kian menjadi-jadi. Tak ingin menganggu lebih jauh lagi, aku hanya diam dan sibuk menanti. Jeritku dalam dada kian membunga, beri-beri dan berilah aku perharian, saudara.

Pandangan yang teduh tanpa penasaran tampak tertuju padaku, helaan nafas dalam mengawali suara lirih dan lembut itu menjawab pertanyaanku. Obrolan hangat terlangsungkan. Antara aku dan kakak sepupuku.

Rencana meh lanjut nang ngendi ya?, Bandung aja yo!”, ya Tuhan. Sakit aku mendengar pertanyaan dan ajakan itu. Aku hanya akan bisa di rumah, menjalani karma atas kematian bunda. Hanya rumah dan karma. Simpel dengan keberanian yang tinggi aku menjawabnya “gak ngerti mbak, ntar gimana”.Aku bertanya harga kontrakan karena aku butuh informasi tentangnya, aku tanya jam rutinitas harian karena aku butuh mengerti tentangnya. Aku harus menjalani tapi tak tahu kemana dan harus bagaimana aku bertanya dan mempelajarinya. Sedang karma, pasti menuntutku untuk wajib bisa. Karma memang egois.

Satu ketika engkau akan mengetahuinya mbak, dan yakinlah engkau harus turut tanggung jawab atas ini semua. Atas satu janji yang engkau patrikan saat Bunda tiada. Menjadi seorang kakak dan pelindung bagiku, adik sepupumu.

***

Lebaran telah menjelang, mbakku pastilah akan menyinggahkan diri dan pulang ke kampung halamannya. Kampung yang sudah tak buta dengan bunga bangkai yang mengotorinya, bunga yang terlempar dan mengena padaku, bunga bangkai bernama karma. Tak tuli dengan siaran kabar publikasi keberadaannya di sini, di rumahku, ah tepatnya di rumah orang tuaku. Tentu, barang sebentar, pasti ia akan ke rumahku, rumah pak Liknya. Tak tahan untuk dipungkiri ia juga akan menatap aku dan segala perubahan fisikku.

Assalamu’alaykum Ika”, sapa hangat dan sorot mata sipit kembali aku rasakan sakit. Apa aku harus jujur dan mengatakan segalanya? Saat kepercayaan telah bermuara panjang padaku. Tak kuasa aku membendungnya karena tak ada penguat yang menyertai aku. Sungguh tak ada atau mungkin belum ada. Tanpa jujurpun tampaknya batu mati juga sudah bercerita padanya, siulan burungpun sudah tak enggan memperpanjang cercaan untukku terdengar olehnya. Biarkan aku diam tanpa kebisingan. Kalaupun amarah lewat cacian dengan santun aku akan mendengarkan, andainya amarah terwujudkan dalam tamparan aku akan merasainya dalam balut penyesalan, andai hati yang digunakan memendam maka aku akan memohon keras agar ikhlas memaafkan. Mbak ini aku dan seperti inilah sekarang aku… Maaf, sudah ada karma.

Tak mungkin aku akan selalu menyembunyikan keberadaannya, keberadaan seorang yang pertama; bapak dari yang kedua, yang masih 3 bulan dalam rahim ini. Ku kenalkan padanya, meski sudah tak asing kembali aku tegaskan “ini suamiku, mbak”.

Tertangkap guruh dalam keteduhan itu, perlahan wajah manis itu terbasahi oleh air mata tertahankan. Teraihnya aku dalam gapai dan pelukannya, dengan diam teriring berisiknya air mata ia terus menangis. Teriring isakan ia bisikan perlah, “De’ Ika, maafkan mbak, yo de’. Mbak gak iso jogo amanah, mbak lali karo janji mbak”. Teringat pada tiga tahun yang lalu, ganti saatnya aku yang menjadi penenang untuknya. Meski terhanyut juga dengan keadaan, namun aku teringat pada karma yang telah ada, yang sebentar lagi aku wajib ikhlas dipanggil sebagai ibu.

Biarlah, segala celaan telah aku dengarkan; baik yang lantang terucap ataupun yang lirih terbisik. Setiap wajah merendahkan telah aku temukan, mulai yang disertai hardikan tajam ataupun yang pura-pura menyembunyikan bencinya dalam kegundahan. Mungkin terlalu bebas dalam bersapa, terlalu arif dalam berbusana. Ah, sudahlah memang sewajarnya inilah karma atas prahara senja yang membawaku pada lembah hina. Nadir dalam nestapa. Sempurnakanlah hijab kalian, cukupkan aku saja yang menjadi pembelajaran dan penyesalan bersama, bukan cuma untuk aku tapi untuk semua.

Ngawi, 24 Agustus 2012 by Ern Hidayatul Ulya

* Terinspirasi dari perjuangannya. Titilah dalam segenap perjalananmu. Mbak ada di sini, sholehah. Belajarlah… Dan ayo bersama sempurnakan hijab.

Ditulis oleh Ern Hidayatul Ulya, Kepala Divisi Humas dan Media KAMMI STKS Bandung dan dipublikasikan pertama kali pada hari Senin, 27 Agustus 2012 di notes FB di sini http://www.facebook.com/notes/ern-hidayatul-ulya/memilih-karma/10151114916062974

 

 

 

Categories: Artikel Hikmah | Tags: , , , | Leave a comment

Post navigation

Ikhwah Berkomentar!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: