Salah Pilih (lagi)

Salah Pilih (lagi)

Terhadiri oleh ribuan kader dan simpatisan Partai Keadilan Sejahtera kota Bandung di agenda Silaturahmi dan Tabligh Akbar, 02 September 2012 kemarin. Senyum keikhlasan memaafkan dalam momentum lebaran menjadi pewarna dan pemanis acara. Saling sapa, saling salam dan tulus saling memaafkan. Terbingkai dalam kata “silaturahmi”.

Dzuhur selesai, dan sebagaimana kewajiban tetap harus diutamakan daripada hak, terakhirilah acara yang ada. Bersama pasukan mujahidah Coblong langsung memilih untuk pulang. Tidak banyak yang menjadi alasan “sudah dikejar agenda selajutnya”. Hm, entah manajemen waktu yang kurang baik atau memang terlampau sibuknya mereka? Biarlah waktu dan hasil yang memberikan jawaban.

Dengan ketergesaan yang tidak terlampau meninggi, sengaja memilih untuk jalan di yang paling depan. Dibarengi sama mbak Dhelta Wilis dan teh Ai Masyitoh menunggu angkot warna putih jurusan Riung-Dago. Meski bukan dari golongan darah A tapi kebiasaan sok ngarahkan masih tetap ada. hehehe. Alhamdulillah tak harus menunggu lama; angkot warna putih sudah ada di hadapan dan seru seorang teteh “Oh, iya ini angkotnya“, menimpali seru pertanyaanku. Terbiasa tanya untuk memastikan, karena mata tak begitu tajam lagi untuk membaca. Tanpa Kacamata.

Yuk“, ajakku pada mujahidah-mujahidah muda itu. Ku langkahkan kaki dan masuk ke dalam angkot, belum sempat duduk dan baru bagian kepala yang masuk kudengar seruan cukup keras dari seorang akhwat yang masih di belakangku. “Mbak Na, salah angkot. Bukan itu!“. Wah, seriusan, di hadapan banyak orang, di tengah keramaian aku malu sejadi-jadinya. Salah Pilih Angkot.

Banyak mata tertuju padaku, tak sedikit wajah-wajah teduh di sekitar menyunggingkan senyum nyaris tertawa menyaksikanku. Ah, malu lah intinya.

Selepas shalat dzuhur, sejenak sambil meluruskan kaki-kaki dan menata nafas kembali. Sampai di masjid besar Darul Hikam. Kembali merenungi kisah lucu barusan; dan ternyata banyak hikmah dan pembelajaran (lagi) yang bisa aku temukan. Pertama  memilih itu tidak bisa dengan tergesa-gesa, karena ketergesaan seringkali dicampurtangani oleh syaitan. Kedua, kalau tidak menghadirkan Allah dalam kesadaran, ya sebuah penyesalan akan mudah timbul dan muncul. Ketiga,  amati dan gali informasi semaksimal mungkin, kalau tidak bisa melihat jelas tanpa kacamata maka jangan nantang, pakailah kacamata. Kacamata kehidupan untuk segala pilihan atas keputusan.

Ditulis oleh Ern Hidayatul Ulya, Kepala Divisi Humas dan Media KAMMI STKS Bandung dan dipublikasikan pertama kali pada hari Senin, 03 September 2012 di notes FB di sini http://www.facebook.com/notes/ern-hidayatul-ulya/salah-pilih-lagi/10151126048917974

 

 

 

Categories: Artikel Hikmah | Tags: , , | Leave a comment

Post navigation

Ikhwah Berkomentar!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: