Karena, Berat Melepasnya |Refleksi 153 PNS Bekas Terpidana|

Surat Edaran 800/4329/SJ tertanggal 29 Oktober 2012 tentang Pengangkatan Kembali PNS dalam jabatan struktural tampak seperti angin badai yang menegangkan. Ah, ia hanya sebagai angin kecil yang meminta simpati saja, dan tak akan lama tentu akan berlalu; lha wong namanya badai saja pasti berlalu. Ini hanya sebatas angin kecil yang berhembus sedikit kencang untuk menepiskan kerancuan, pelanggaran dan ketakutan para tikus dalam strukural pencarian makanan. Pasti tak lama ia juga akan berselang, acuhkan saja dan anggap tak ada edaran sedemikian. Lincahlah bermain cantik dalam perburuan kalian! Silahkan!

Hakikatnya jelas dan bahkan sudah tertegaskan, dalam saduran surat edaran terdapat larangan keras untuk menjadikan bekas narapidana sebagai pejabat (lagi) ataupun (nanti). Dan mereka yang sudah diangkat harus segera diberhentikan. Simple, sedemikian sajalah permintaan di dalamnya. Namun karena sebuah sikap itu hadir juga dipengaruhi oleh sifat, maka tak menutup kemungkinan sifat kekanak-kanakan dengan keegoisan tinggi menutup rapat para pemangku jabatan untuk menjalankan murni aturan yang dimintakan, mendengar tapi tak taat, ah ini biasa di Indonesia.

Sampai satu informasi masih dengan gamblang tersampaikan, di mana menurut pemaparan pak Gamawan Fauzi (Kompas, 6/11) menyertakan ada 278 kepala daerah yang divonis korupsi. Wow, how great it is. Tentulah kursi-kursi yang sangat diincar, karena terlalu menggiurkan untuk menjadi santapan. Kalau mata tidak dipinjamkan kaca, entah akan jadi seperti apatah Indonesia. Biarkan ia menyenandungkan gelisah hatinya dalam ratapan perjuangan syair lagu pak presiden dan buku gambar memorial ibu presiden. Mungkin sudah cukup dan lebih dari cukup (anggapan mereka). Lagi-lagi, silahkan saja!

Satu pernyataan yang muncul dan gamblang dijadikan spekulasi atas tindakan mengangkat pejabat daerah atau pejabat yang sepadan dengannya meski sudah tersandung kasus korupsi dan masuk keluar sel adalah “biarkan mereka berusaha membersihkan citra dan diri di kesempatan yang kedua, dan mereka adalah orang luar biasa yang sudah terlanjur dicinta oleh kita (red: teman operasinya)”. Inilah kawan, bukan karena tak ada orang orang tapi mereka sudah terlanjur disayang.

Jangan gugat cintaku

Bukankah cinta menuntut segalanya? Sama halnya wujud pembelaan dan dukungan dalam segala hal, untuk yang positif akan dibela mati-matiaan yang negative pun akan tetap diperjuangkan. Karena sudah terlanjur sayang, maka inilah wujud cinta diantara atasan dan bawahan, enggan untuk memberhentikan dan segan untuk menolak saat mendaftarkan. Lagi-lagi sudah terlanjur cinta.

Tidak dipungkiri keadaan yang ada di lapangan, sangat berlimpah orang mahir yang bisa menggaantikan posisi dan jabatan ini. Mereka yang memiliki latar pendidikan dan pengalaman tak perlu diragukan. Melanglang buana memecah angkasa, ijazah luar negeri dan gudang prestasi mereka miliki, tapi kerjasama sebelumnya sudah terbina. “Kongkalikong sudah terlanjur kuat dan menyedihkan kalau harus dibongkar dan disudahkan. Ini pilihan dewan juri dalam perlombaan kolusi, tidak bisa dirubah dan sudahlah jangan gugat cinta kami”, kata mereka.

Profesionalkan cinta dan kerjasama

Bukan cerdas kita mengamati kalau hanya sekedar mencaci, beri solusi atas kondisi. Inilah realita, inilah tantangan dan berikan suara atau tindak nyata. Jika dengan dalih cinta mereka mempertahankan kebobrokan, jika dengan dalih terlanjur cinta mereka segan maka atas nama cinta dan kasih sayang, bawalah altruisme itu dalam sebuah tindakan kebersamaan. Jika memang mereka membawa kebersamaan dalam semua tindakannya, kalau kesalahan yang menjerat salah satu rekan ‘cinta’ mereka sampai ke kasus pidana maka jangan atas nama kerjasama dan cinta mereka mengajak dan menerima kembali mereka dalam barisan kinerja, tapi cobalah dengan bangga dan bijak jangan menerima mereka kembali dengan dalih apapun dan sinergikan dengan patriotisme untuk turun serta mundur dari jabatan atas polesan kebersamaan. Jika kemarin berjamaah dalam KKN maka berjamaah pulalah dalam tanggung jawab itu, jangan ada dusta antara kita. Bebaskan kami dari ulah manis korupsi.

*Suara kami atas nama korupsi

  • Erna Dwi Susanti
  • Kepala Divisi Humas dan Media KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) STKS Bandung
  • Alamat tinggal: Jln. Ir.  H. Djuanda 367 Bandung
  • No Contact: 085720847119
  • Email: Ernastksbandung@yahoo.co.id
  • Mahasiswa STKS Bandung
Categories: Sosial dan Politik | Tags: , , , , | Leave a comment

Post navigation

Ikhwah Berkomentar!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: