Aku Terjerumus

Aku terjerumus ke dalam lubang hitam yang gelap

Tak ada cahaya

Tak ada kata

Tak bisa bergerak

Pernah, Pernah, dan Pernah

Dan kini, di sisa usia yang semakin berkurang

Kembali aku terjerumus

Ke dalam lubang yang penuh cahaya

Cahaya menyilaukan

Tak mampu mata melihat benda yang berada di dalamnya

Hingga perlahan, cahaya itu meredup

Dan kumulai melihat beberapa benda

Kulihat ada batu, dia tak bergerak, terus saja berada di tempatnya, tak berkutik di telan waktu

Kulihat ada batu, sebuah batu, dia terus berguling, menerjang apa pun yang dilaluinya, namun dia dihentikan oleh batu yang lebih besar

Batu kecil berhenti tak berdaya dihentikan oleh batu yang diam

Namun di belakang kecil tersebut, ada beberapa batu yang sedikit lebih besar

menghantam batu yang lebih besar, satu, dua, tiga, empat, lima,

Kelima batu tersebut bergantian menghantam si batu besar yang angkuh

Hingga pada akhirnya, batu besar itu retak, mulai retak

Ke enam batu ini masih saja terhenti oleh batu besar yang retak

Hingga pada akhirnya dua batu selanjutnya menghantam kuat dan keras

Memecah belah batu besar tadi, Batu itu hancur berkeping-keping

Anda tahu apa yang terjadi?

Ke enam batu kecil tadi akhirnya berguling bersama ke dua batu terakhir

 

Di tulis oleh Muhammad Ikhlas Samad (Ketua KAMMI STKS Bandung periode 2013-2014)

pada Hari Selasa tanggal 12 Maret 2013 pada pukul 11.33 pm

Categories: Artikel Hikmah | Leave a comment

Post navigation

Ikhwah Berkomentar!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: