Generasi Menunduk

Generasi Menunduk

Oleh Aldy Devianty*

Setuju kah Anda jika generasi hari ini dijuluki sebagai “generasi menunduk”? Menunduk bukan berarti menunduk dalam artian patuh atau manut tapi menuduk dalam arti suka memainkan gadget, entah apa yang sedang mereka kerjakan namun seperti tiada hari tanpa menunduk kan kepala dan memainkan jempol, mungkin rata-rata waktu senggang habis termakan untuk sekedar melihat jejaring sosial yang memang disediakan oleh gadget.

Hampir semua gadget memiliki aplikasi ini atau mungkin memang inilah yang mereka jual kepada masyarakat. Keadaan  hari ini memang jejaring sosial kian menjamur di kalangan muda mudi bahkan merembet ke orang-orang umum, menurut penelitian bisa dikatakan 20% dari 100% waktu mereka digunakan untuk aktifitas berjejaring sosial. Tidak ada yang salah memang ketika kita menggunakan jejaring sosial sebagai media penghubung kita kepada teman di belahan dunia lainnya toh memang pengertian dari jejaring sosial sendiri adalah suatu struktur sosial yang dibentuk dari simpul-simpul (yang umumnya adalah individu atau organisasi) yang diikat dengan satu atau lebih tipe relasi spesifik seperti nilai, visi, ide, teman, keturunan, dan lain-lain.

Jadi sudah jelas bahwa jejaring sosial sebenarnya digunakan untuk membangun relasi dimana terdapat satu kesamaan berupa nilai, visi, ide, teman, keturunan. Namun apa yang terjadi hari ini ?????

Keadaan hari ini, bukan saja sebagai bentuk alat pembangun relasi tapi jejaring sosial pun diramaikan dengan hal-hal lain, mungkin di kalangan kita ini sudah menjadi masalah klasik (termasuk saya) yang seakan dunia kecil kita berada di genggaman tangan cukup pencet sana-sini kita  akan mengetahui hal-hal yang terjadi di belahan dunia manapun. Tanya kabar pun sudah tidak harus lewat face to face seperti dulu, tinggal klik beres. Namun bagaimana sih jejaring sosial ini dipandang dalam Islam? Dalam Islam sendiri sangat menjunjung nilai-nilai dalam ber-relasi atau ukhuwah, memang dianjurkan untuk mempererat jalinan silaturahim antar saudara. Nah, sarana jejaring sosial juga dapat kita gunakan dalam mempererat tali ukhuwah kita, kalo yang ini sipp deh ^_^.

Terus untuk status kumaha? Yahh untuk status sendiri kebanyakan sih soal curhatan pribadi yang sebenarnya agak pribadi banget (ya saya juga pernah seperti itu), perlu gak sih curhatan tentang kita diumbar saya kira tidak. Haruskah si fulan tahu semua tentang kita tapi malah orang tua kita gak tau, masa kita ngasih tahu orang asing tapi orang yang paling dekat  malah gak tahu L.

Lain lagi yang statusnya mengumpat secara frontal kepada orang, institusi atau organisasi. Hmmm, tahu ini Rasulullah SAW bersabda, ”Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya berkata baik atau diam” (HR Ibnu Majah). Jadi tulisan-tulisan kita yang seperi itu bisa dibilang merupakan perkataan dalam bentuk konstekstual kita ,apa kata dunia? Jika kita nulis seperti itu ingat ya perkataan merupakan cerminan diri, kita orang yang baik atau kasar juga bisa dilihat dari tulisan di status-status kita, mending gak usah bikin status deh kalo belum bisa ngebadain yang pantas dan tidak pantas dimuat. Mungkin untuk tulisan kali ini segini dulu ya… Semoga bermanfaat J

*Staf Humas dan Media Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) STKS Bandung. Mahasiswi STKS Bandung angkatan 2012

Categories: Remaja dan Pemuda | Tags: , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Ikhwah Berkomentar!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: