DEMOKRASI TIGA ANGKA

Demokrasi Tiga Angka*

*Oleh Ern Hidayatul Ulya 

Seorang Platoyang dipertemukan dengan Socrates menjadikan pelembagaan tersendiri ataskeberadaan demokrasi. Seorang pemikir dan filusuf Plato mungkin tak akanterkenal dalam tingginya cerita peradaban kalau tidak diijinkan berjumpa denganSocrates. Karena murid selalu dilengkapi guru dan guru akan semakin sempurnadengan keberadaan seorang murid. Indah dan mempesona, menipu namun jugamenggoda. Sebut saja dia Demokrasi.

Sistem kufur danhasil pemikiran pemuja thaghut, sepintas tapi berulang dan bergema seringdilabelkan atas keberadaannya. Konsep di materi ajar Kewarganegaraan manakalatidak using juga disampaikan bahwa ia adalah suatu sajian dari rakyat, yangdiolah oleh rakyat dan akan dinikmati juga untuk rakyat, demi kesejahteraan.Mengagungkan hukum baru buatan manusia dan memosisikan manusia sebagai kekuasaantertinggi. Mungkin menepiskan kuasa Tuhan, mungkinkah? Lihat realita,penyikapan dan penjabarannya.

Tidak kalahasing kalau dibandingkan dengan Demokrasi adalah pemilu. Pemilu menjadi bungadari pohonnya demokrasi. Pemilu disebutnya sebagai pesta demokrasi. Dan adasatu gambaran tentang percaturan pemilu di negaraku, hmm negaramu dan Negarakita ini, sebut lagi ia dengan optimis “Indonesia”. Satu perhelatan akbar untukmemilih legislative dan eksekutif (presiden dan cabinet-kabinetnya), tidak lamalagi lebih kurang satu tahun lagi, ya di 2014.

Seperti kerupukdan umbul-umbul walimahan, perwajahan pepartaian yang ada di Indonesia untuk2014 pun tidak sedikit lagi. Memang lebih sedikit jika dibandingkan dengan limatahunan yang lalu. Kali ini ada tigabelas aliansi yang bernama partai di draf pilihan untuk2014 nanti. Beragam warna terpadu dalam logo dan lambang, cantik seperti halnyapelangi selepas gerimis dan paduan cahaya yang sinergis.

Dari banyak pilihanmaka juga banyak otak yang harus digunakan untuk berpikir. Memilih mana yangtepat. Menghadapinya di 2014 tapi sudah membuatku bungkam di 2013. Setahundalam perencanaan dan setahun dalam pemikiran. Namun bukannya dalam pemikiranaku masih ada hak untuk berandai-andai. Andai saja ada persamaan yang merekasatukan, bukan perbedaan yang mereka kembangkan kemungkinan tidak akan adabanyak bintang-bintang pusing yang berkeliling.

Jika memangberlatar pada persamaan, cukuplah untuk demokrasi kali ini muncul tiga angka 1– 2 – 3. Satu untuk liberal, dua untuk sosialis dan tiga untuk agamis. Tapiternyata lapangan masih memberikan space yang cukup lebar. Sekian ditambahsekian lagi di akhir perwacanaan. Masing-masing dari mereka punya keinginanuntuk punya nama, dinama dan ternama.

Andai sajamereka bisa bersatu, hanya akan dimunculka tiga angka tanpa banyak perdebatan.Kami merindukan demokrasi tiga angka.

Ditulis oleh Erna Hidyatul Ulya (Kadiv HUMAS KAMMI STKS Bandung)  pada hari hari Senin, 6 Mei 2013 pukul 15.00

Diterbitkan pertama kali di catatan FB

https://www.facebook.com/notes/ern-hidayatul-ulya/demokrasi-tiga-angka/10151558205667974

Categories: Sosial dan Politik | Tags: , , | Leave a comment

Post navigation

Ikhwah Berkomentar!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: