Kado Cinta untuk Ayahanda

Sungguhnya, ada seseorang yang kelak di surga ditinggikan derajatnya , maka ia bertanya, apa yang menyebabkanku dinaikkan derajat surganya? Maka dikatakan kepadanya “Disebabkan istigfar anakmu untukmu”                    (H.R  Ahmad)
*****************************************************************************

“Aku lagi libur 2 minggu pak sakniki”  jawabku kepada bapak, ketika menelepon ke rumah.

“Lho, kok ga muleh sisan ngopo? Tanya bapak sambil tertawa.

“Wah, bolak-balik 4 juta je pak, ga ono duit”

“Alah, nek masalah duit gampang, hehehehe”.

  Harapan, sebuah harapan dalam candaan, dari orang tua ke anak rantaunya. Ketika kubertanya tentang kesehatannya, bapak menjawab “ Wes le, ra usah khawatir. Sinau ae, bapakmu ki ora popo. Nek pancen wes ajal, kwi cen es wayah e. Rasah dipikir”( Sudahlah nak, tak perlu khawatir. Belajar saja, bapakmu tidak apa-apa. Kalau memang sudah ajal, itu memang sudah waktunya. Ga perlu dipikirkan).

  Sebuah ungkapan untuk menghapus kekhawatiran seorang anak, dari seorang bapak yang sudah berumur 74 tahun. Mengharu biru.

Loncat ke masa yang berbeda.

  Masa ketika seragam masih putih hitam. Suatu ketika, kumencoba untuk mengukur kasih sayang orang tua dengan barometer harta. “Ah, bagaimana aku harus menghitungnya?” pikirku kala itu. Akhirnya kuputuskan untuk menghitung seluruh biaya yang kira-kira akan dikeluarkan oleh ayah bunda selama ku menempuh masa Sma. Biaya masuk + Spp  (selama 4 tahun)= 23.000.000. Wow, mana duit jajan belum saya tambahkan.

Mungkin kamu akan dapati nominal yang lebih besar.

  Banyak nggak sih uang segitu? Mungkin kamu akan menjawab, tergantung perekonomian keluarga dong mas. Nah, sekarang pertanyaannya, tahukan kamu tentang kondisi ekonomi keluargamu?

  Okelah, hal itu tidak perlu dijawab. Sekarang kita mencoba beralih dengan cara pandang orang tua. Pernyataan di bawah ini adalah hasil dari pengamatan pada percakapan yang terjadi di masayarakat kita. Bahkan kamu bisa dapati dalam tayangan keluarga ataupun buku bacaan.

  Jika di sana ada seorang anak yang baik, rajin dan berakhlak mulia, maka kira-kira begini ungkapan orang tua “ Ga rugi aku mengeluarkan biaya “….”  untuk sekolahmu”.

  Jika di sana ada seorang anak yang nakal, bandel plus berakhlak buruk, maka tak jarang keluar kata “Sudah mahal ku sekolahkan dirimu, tapi mana hasilnya?”

Artinya apa? Biaya belajar kita selama ini = mahal.

Mungkin saat kita menjadi orang tua nantinya, kita baru bisa merasakannya. Tapi minimal pikirkanlah.

  Bukalah mata kalian dan lihatlah, begitu besar kepercayaan orang tuamu kepada dirimu. Berusaha memberikan yang terbaik untuk buah hatinya dengan segenap jiwa raga.

Apa sih yang diinginkan mereka kepada kita?

Sebuah pertanyaan yang mungkin perlu kamu tanyakan kepada orangtuamu.

  Meloncat ke masa yang berbeda.  Disaat ku telah menyelesaikan jenjang Sma, dan berusaha menapaki pendidikan yang lebih tinggi di jakarta. Singkat cerita, aku pun harus kembali ke jogja dengan status masih sama. Lulusan Sma. Terbesit keinginan dalam hati untuk banting stir menjadi ust ngabdi.

“Pak, saya ga lulus ujian pendaftaran kuliahnya. Trus aku pingin ngabdi dulu saja. Mungkin, nanti bisa mencoba kembali” ungkapku kepada bapak.

“Wes karepmu le. Kwe arep kuliah ning ndi, opo arep nang ndi terserah kowe. Sing penting intine kwe dadi anak sing sholeh wae. Wes arep dadi opo wae, sing penting sholeh” (bhs jawa : Terserah kamu nak. Kamu mau kuliah di mana saja, atau mau ke mana saja terserah kamu. Yang penting, intinya kamu jadi anak soleh. Sudahlah, mau jadi apa saja, yang penting sholeh) Jelas bapak.

Ternyata benar, impian orang tua untuk anaknya itu tak lebih dari 2 kata. Anak Sholeh.

Cobalah kamu bertanya kepada orangtuamu, apa sih impian mereka buat dirimu?

  Mungkin selama ini kamu merasakan ada tekanan tertentu dari bapak ibumu. Mereka seakan memaksakan suatu hal kepadamu yang tidak kamu suka. Bahkan kamu sampai berteriak “ WAHAI AYAH BUNDA, MOHONLAH KALIAN SEDIKIT BIJAKSANA, MOHONLAH KALIAN PAHAMI DIRIKU”. Ya, hati kalian meronta. Seakan kehendak orang tua itu menghadang cita-cita.

  Padahal, tidak ada orangtua anda yang berpikiran demikian. Mereka berdua hanya menginginkan kebaikan.
Yang perlu kita lakukan adalah Menjadi anak yang lebih bijaksana. Menjadi anak yang bisa memahami orangtuanya. Menjadi anak yang akan menggapai harapan mereka.

  Bukan sebaliknya, meminta orangtua memahami kita. Ketahuilah, mereka juga pernah hidup seperti kita, menjadi anak Sma. Tetapi tidak sebaliknya, kita belum pernah hidup menjadi orang tua.

  Adik-adikku semuanya, jadikanlah dirimu sekarang ini, setelungkup tangan yang menjaga api lilin harapan orang tua di antara badai dunia. Yakinkanlah pada hati mereka bahwa kalian akan berusaha sebaik mungkin untuk memenuhi impian mereka. Jangan pernah sekalipun menghianati kepercayaan mereka kepadamu. Pengorbanan mereka besar, maka tunjukkan semangatmu yang besar.

  Adik-adikku semua, suatu ketika, kita juga akan menjadi orang tua. Jika kita ingin menjadi orang tua yang bahagia, maka bahagiakanlah orang tua kita sekarang. Jadilah seperti yang mereka harapkan. Maka nantinya, anak-anak kalian pun akan menjadi yang seperti kalian harapkan.

Seorang anak yang sholeh

Menyendiri di dalam masjid sepi

Mengaji, mempelajari kitab suci

Berakhlak mulia

Indah di mata sahabat dan ustadznya

Selalu ceria

Optimis

Membuat orang disekitarnya nyaman disisinya

Anak sholeh itu adalah “kamu”

Walaupun orangtuamu tak tahu

Jika mereka menyadarinya

Mata ayah bunda kan berkaca-kaca

Melihat pemandangan indah tak terkata

Yang akhirnya terlantun doa

Surga, tempat kita kan bersua

Yaa Rabb, ampunilah diriku, serta keduaorangtuaku. Dan kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka mengasihiku sewaktu kecil. Amin

image

Anak sholeh yang mendoakan orangtuanya.
Dari sahabat kalian, yang mencintai kalian, agar kalian mencintai-Nya dan orang tua yang kita punya.

==========================
By : MahasiswaGalau

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Ikhwah Berkomentar!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: