Rihlah KAMMI STKS

 

Sudah menginjak satu bulan setelah kegiatan Rihlah KAMMI Komisariat STKS ini berlalu. Rasanya agak sayang jika momen Rihlah ini terlewatkan begitu saja atau hanya menjadi sekadar kenangan yang mengalir bersama angin. Alangkah manisnya jika kita diabadikan melalui tulisan ini. Suatu saat, kita akan mengingat kembali bahwa kita pernah berjalan jauh menyusuri alam Dago bersama. Sekalipun lupa, semoga tulisan sederhana ini akan membangkitkan memori kita kembali😉

Momen kami, momen kita bersama

Momen kami, momen kita bersama

Hari itu 17 Oktober 2015, tepatnya jatuh pada hari Sabtu, adalah momen bersejarah yang tak terlupakan. Dipandu oleh seorang ustadz berjiwa petualang, kami yang terdiri dari 5 orang ikhwan dan 5 orang akhowat siap melaksanakan kegiatan Rihlah (semi mukhayyam—we said) menuju destinasi yang dirahasiakan. Kami semua berkumpul di Masjid Al Ihsan STKS Bandung pukul 07.00 WIB, tetapi kami berangkat sekitar pukul 08.30 WIB. Lama ya? Hehe iya, da kumaha atuh ada yang masih sarapan.

Ustadz Petualang (semoga beliau mengizinkan hehe) mempersilakan untuk membuka acara dengan membaca doa dan tilawah terlebih dahulu, baru kemudian kita memulai perjalanan. Rute perjalanan kami adalah melewati Terminal Dago Atas – turun melewati permukiman warga – menanjak menyibak jalan yang kemiringannya sekitar 75 derajat (mendekati 90 derajat!) ditemani pohon-pohon pinus – lalu berhenti sejenak di tanah landai (lapangan kecil berumput).

Ada yang menarik sebelum sampai di tanah landai tempat kami beristirahat. Kami belum satupun ada yang pernah melewati jalur antah-berantah itu. Bahkan, sang Ustadz Petualang (sebagai satu-satunya orang yang tahu pun) sempat bertanya kepada rumah warga karena lupa. Dan ada perasaan yang masih terkenang saat jalan menanjak saat itu. Rasanya cuapek tenan! Jarak barisan antara ikhwan dan akhowat jadi terpisah jauh karena akhowaters kelelahan, bahkan sempat berhenti beberapa kali. Uniknya dibandingkan panitia, peserta akhowat lebih bersemangat dan lebih tangguh, loh!

Mendaki gunung, lewati lembah ~~

Mendaki gunung, lewati lembah ~~

Nah, setelah berhenti sejenak itu kami melanjutkan perjalanan kembali. “Itu sudah di depan tempatnya, kok”, kata sang Ustadz Petualang berkali-kali. Dan kami percaya bahwa tempatnya sudah dekat dengan tempat istirahat. Ternyata…kami masih harus maniki dan menuruni lembah bukit yang sepertinya lebih mirip lembah hutan (entahlah bingung menamakannya). Beberapa kali akhowatnya istirahat dan ikhwannya (terpaksa) menunggu. Beberapa kali akhowatnya tergelincir saat jalan menurun karena alas kaki yang dipakai kurang pas untuk medan yang licin dan (cukup) terjal. Perjalanan masih berlanjut melewati pinggiran lereng bukit yang hanya setapak. Sempat khawatir karena kalau jatuh rasanya akan susah ditemukan. Meskipun begitu, pemandangan yang kami dapatkan sangat bagus!

Foto Rihlah 3

Singkat cerita, perjalanan terus berlangsung hingga dari kejauhan kami melihat sungai. Dan itulah destinasi pertama kami! Di sungai yang sedang surut itu, kami duduk di bebatuan dan istirahat, kemudian dilanjutkan dengan taujih oleh sang Ustadz Petualang.

“Sejarah menuturkan bahwa peradaban besar terletak di sekitar sungai”, begitulah kira-kira kalimat pembuka sang Ustadz Petualang. Ya..betul. “Siapa yang tak kenal peradaban Mesir Kuno, China, India, dan bahkan kerajaan-kerajaan besar di Indonesia? Semuanya terletak tak jauh dari sungai”, sang Ustadz Petualang melanjutkan hingga akhir.

Setelah taujih ditutup, sang Ustadz Petualang kembali menawarkan dua pilihan perjalanan pulang yang sama-sama menantang. Pilihan pertama jalan relatif ringan, tapi rute yang belum pasti. Pilihan kedua jalan yang panjang, terjal, tapi rutenya pasti. Secara serempak kami menyepakati memilih pilihan pertama dengan segala konsekuensi. Dengan begitu, perjalanan di mulai dengan menyusuri sungai. “Kalau kita tersesat di hutan belantara, untuk selamat maka hal yang harus dilakukan adalah mencari sungai”, begitu tips dari sang Ustadz Petualang.

Setelah menyusuri sungai, tantangan perjalanan kami selanjutnya adalah menanjak lereng bukit. Bisa dibayangkan bahwa rombongan Rihlah kami tak hanya ikhwan, tetapi juga bersama akhowat yang berpakaian syar’i dengan gamis menjulurnya. Loncat sana-loncat sini, raih akar tanaman itu-raih ranting yang itu, menerobos belukar, dsb. Akhowat memang tangguh! Lalu, sebuah kejutan menanti di atas lereng bukit: Goa Belanda!

"Kalau tersesat, temukanlah sungai!"

“Kalau tersesat, temukanlah sungai!”

Yep! Destinasi kedua kami adalah Goa Belanda.

Setelah istirahat dan sholat, kami melanjutkan dengan kegiatan tilawah berantai. Lalu, kami menikmati jagung bakar bersama. Setelah itu, kami bersama-sama masuk ke dalam Goa Belanda. Kemudian berjalan kembali menuju destinasi ketiga kami, yaitu mengunjungi Goa Jepang sebelum pulang dan acara Rihlah KAMMI pun berakhir.

Daann…penasaran kan siapa sang Ustadz Petualang yang dimaksud?

Tadaa…..beliau adalah Ustdaz Eko! :3 Perkenalkan, beliau adalah murobbi para ikhwan tangguh sekaligus pembina KAMMI Komisariat STKS sekaligus founder Sekolah Alam Bandun sekaligus sekaligus sekaligus petualang tentunyaa😀

Ustadz Eko as Ustadz Petualang memberikan "taujih peradaban"

Ustadz Eko as Ustadz Petualang memberikan “taujih peradaban”

Inilah aktivis dakwah petualang: Akhi Pansuri, Akhi Ghazi, Akhi Febri, Akhi Gunawan, dan Akhi Dhiya serta akhowatnya adalah Ukhti Dhien, Ukhti Wildan, Ukhti Dewi, Ukhti Astria, Ukhti Aisyah, dan Ukhti Yuri.

Inilah aktivis dakwah petualang: Akhi Pansuri, Akhi Ghazi, Akhi Febri, Akhi Gunawan, dan Akhi Dhiya serta akhowatnya adalah Ukhti Dhien, Ukhti Wildan, Ukhti Dewi, Ukhti Astria, Ukhti Aisyah, dan Ukhti Yuri.

*Dann…Akhi Dhiya adalah dalang dari kegiatan Rihlah (semi-mukhayyam) yang super unexpected ini🙂

*Laluu..siapakah akhowat yang tergelincir? Tebak inisialnya adalah I!

*Siapa jugakah sosok yang membuat kami lama menunggu karena belum sarapan? Jelasnya ikhwan, hhmm kasih ta ngga yaa..

*Ada yang selama perjalanan kecapekan bahkan buat tersenyum sekalipun :p

*Ada yang semangat banget dan paling tangguh sampai akhir acara..

Alhamdulillah, ibrah selain terjalinnya ukhuwah adalah bertambahnya kesyukuran atas nikmat keindahan alam semesta dan tumbuhnya kesadaran bahwa seorang aktivis dakwah itu harus kuat. Sesungguhnya mukmin yang kuat lebih dicintai ALLAH dibandingkan mukmin yang lemah!

TERIMA KASIH ATAS MOMEN KEBERSAMAANNYA =D

Categories: Kegiatan KAMMI | Tags: , , , | 5 Comments

Post navigation

5 thoughts on “Rihlah KAMMI STKS

  1. Keren. Tahun depan rihlah lagi ya. Ane ikut ^^

  2. Alhamdulillah, kangen jadinya sama kalian para Mujahid/Mujahidah

  3. Semoga kalianlah 10 pemuda(i) yang dimaksud Soekarno

Ikhwah Berkomentar!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: