Uncategorized

Hijrah Membaca Zaman

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh!
Bismillahi ar-rahmanirrahim 🙂
Apa kabar muslim negarawan? Lama tak berjumpa di ruang interaksi virtual ini ya.

Beberapa waktu lalu KAMMI STKS Ar Ruhul Jadid telah mengadakan kagiatan ta’lim yang dibungkus dengan gaya kekinian berupa talkshow. Kegiatan ta’lim ini dilangsungkan menjadi tiga rangkaian talkshow dimana tema besarnya adalah Hijra Talkshow The Series. Ada tiga subtema dan dua diantaranya alhamdulillah sudah dilaksanakan dengan lancar. Subtema pertama adalah ‘Hijrah Hati Menuju Zaman’, kedua adalah ‘Hijrah Membaca Zaman’ dan yang ketiga adalah ‘Hijrah Untuk Peradaban’. Dua talkshow yang sudah berjalan tersebut dihadiri pemuda-pemuda terbaik negeri ini, diantaranya mahasiswa STKS dan juga tentunya para petangguh kader KAMMI STKS. Pemateri yang kami undang berasal dari aktivis mumpuni dalam bidangnya dan matang dalam ilmu yang akan disampaikan.

Hijrah Talkshow The Series

Nah, kali ini kita sama-sama akan menyimak kembali ilmu yang telah kita dapat pada sesi kedua talkshow dengan subtema ‘Hijrah Membaca Zaman’. Talkshow kedua ini dibawakan oleh Kang Abdul Holid. Beliau merupakan Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) REMA UPI dan Ketua Komunitas Pemuda Al-Fatih Bandung. Beginilah beberapa sari ringkasan ilmu yang disampaikan beliau.

“Saat pertama kali saya diminta membawakan tema tentang Hijrah Membaca Zaman, saya agak bingung bagaimana yang dimaksud sebenarnya. Akan tetapi, kita coba bersama-sama bahas bagaimana hijrah itu sendiri dan apa yang ingin kita capai darinya”, begitulah kira-kira Kang Holid membuka ta’lim pada sore hari itu.

Ayo, mari kita langsung saja kepada isi talkshow..
Pembahasan pertama oleh Kang Holid adalah tentang zaman. Ia menyampaikan bahwa perempuan mempunyai tugas utama dalam zaman ini, yaitu mendidik zaman. Dialah sosok utama dibalik roda gerakan zaman. Selanjutnya, masuk kepada pembahasan tentang hijrah. Untuk memudahkan kerangka pemahaman, Kang Holid menggambarkan skema berikut ini:

Pyramid of Muslim's Life

 

H I J R A H. Kang Holid menyampaikan 3 pengertian tentang hijrah, yaitu 1) hijrah berarti kondisi seseorang mendapatkan hidayah sehingga masuk ke dalam agama Islam – konteks ini terjadi pada zaman kenabian, 2) hijrah berarti perjalanan dari satu tempat ke tempat lain yang lebih baik, dan 3) hijrah berarti mengubah perilaku hidup yang Islami. Hijrah yang berarti mengubah perilaku menjadi Islami adalah konteks pengertian yang banyak digunakan pada zaman sekarang. Sudah banyak kini muslimah-muslimah yang dulunya tidak menutup aurat dan kini telah hijrah menutup auratnya dengan berkerudung serta berpakaian tertutup rapi. Atau, kini telah banyak muslimah yang duluya menutup aurat, tetapi belum memenuhi kaidah syariah dan kini sudah hijrah menggunakan kerudung serta pakaian yang lebar-lebar. Bagi laki-laki, kini telah banyak yang hijrah dan mengikuti sunnah seperti tidak isbal dan memelihara jenggot. Sejatinya, hijrah adalah satu step dasar seseorang menuju generasi robbani.

 
T S A Q O F Y. Tsaqofy atau wawasan adalah tahap dimana seseorang melengkapi proses hijrahnya dengan memperbanyak mendalami ilmu agama. Tahap ini ditandai dengan tertautnya seseorang pada ta’lim-ta’lim dan meningkatnya ilmu-ilmu agama yang dimiliki setelah berhijrah. Contohnya adalah seseorang akan mulai mempelajari tafsir Al Qur’an dan hadis-hadis Rasulullah Saw. untuk diterapkannya dalam kehidupan sehari-hari serta rajin pergi menghadiri majlis ta’lim. Kang Holid menambahkan bahwa seseorang tidak cukup menapaki tahap tsaqofy, tetapi butuh pemahaman untuk bertindak secara bijaksana. Alasannya, umat muslim saat ini memiliki wawasan tinggi, namun tidak melekat padanya hikmah dari wawasan yang dimiliki.

 
Tsaqofy digunakan untuk mengisi ruang-ruang peradaban. Ia perlu diseimbangkan agar tidak terlalu ‘ke kanan’ maupun juga terlalu ‘ke kiri’. Jika terlalu ‘ke kanan’ cenderung akan kaku dan mudah menyalahkan, sedangkan jika terlalu ‘ke kiri’ cenderung akan menyeleweng dan menyelisihi ajaran Islam. Kang Holid memberikan tips bagi organisasi Islam agar dapat meningkatkan wawasan bagi anggotanya, yaitu dengan mengadakan kegiatan rutin yang mengusung brand menarik dan melakukan pengkaderan (jantungnya). Branding berfungsi agar membuat anggota dan luar anggota tertarik menghadiri ta’lim. Sedangkan, pengkaderan dianggap amat penting sehingga dikatakan sebagai jantung karena jika tidak dilakukan maka organisasi pasti akan hilang.

 
Tsaqofy juga digunakan menjadi inti di dalam dakwah. Menggunakan tsaqofy ini sebagai inti dakwah dengan aturan bahwa ketika ‘X’ melakukan perbuatan salah, da’i memberi tahu ‘X’ mana yang benar lebih dahulu. Tsaqofy tidak boleh digunakan semata-mata hanya memberi tahu kesalahan yang diperbuat oleh ‘X’ saja. Baiknya tsaqofy ini digunakan tidak dituturkan dengan sikap yang terlalu idealis sehingga membuat dirinya sendiri selalu memandang kesalahan pada diri orang lain

R O B B A N I. Robbani memiliki ciri-ciri selalu mengikuti perintah Allah Swt. Sedangkan, rabbani digambarkan oleh Kang Holid dengan simbol pernyataan “muslim yang taat ke Allah Swt., yang manfaat ke manusia”. Robbani tidak lagi hanya menghapal, tidak lagi hanya pintar, dll. tetapi meresapi, memahami dan memberi hikmah kepada orang lain. Seseorang yang menapaki tahap ini tidak lagi memusatkan perhatian kepada diri sendiri, tetapi juga kepada lingkungan sekitarnya. Ia berkhidmat dengan ilmunya. Dalam segi ibadah, Kang Holid memberikan nasihat agar kita dapat membedakan antara profesionalitas dengan keikhlasan. Seseorang yang menjalankan ketaatan kepada Allah Swt. adakalanya perlu menampilkan diri dengan menampakkan contoh yang nyata pada dirinya agar orang-orang dapat mengambil teladan dan hikmah. Adakalanya pula perlu menyembunyikan diri dari pandangan orang lain. Keduanya perlu ditempatkan dengan benar. Kang Holid menggambarkan bahwa profesionalitas adalah sesuatu yang dilihat oleh orang dari lahiriyahnya (dzahir/ manfaat), sedangkan keikhlasan menjadi ranah manusia berdua dengan Allah Swt.

Foto bersama

Generasi robbani hadir dengan upaya yang digerakkan oleh kita semua. Kang Holid menyampaikan salah satu sarana utama dalam membentuk dan mencapai robbani adalah dengan tarbiyah. Tarbiyah atau pembinaan ini berbeda dengan ta’lim yang hanya kegiatan mentransfer ilmu saja. Tarbiyah bersifat kontinu dan berkelanjutan, ia juga menyertakan dampak atau manfaat kepada penekunnya.

 
Tambahan. Kang Holid menyampaikan satu ilmu isinya bahwa zaman terbagi lima fase:
1.Fase nubuwwah yang berlangsung pada zaman kenabian hingga beliau wafat. Fase ini sekitar 23 tahun lamanya dan memiliki dua kategori masa, saat di Makkah dan saat hijrah ke Madinah.
2.Fase khilafah ala minhaj an-nubuwwah yang berlangsung pada zaman khulafaur rasyidin dan beberapa tahun setelahnya. Fase ini sekitar 30 tahun lamanya
3.Fase mulkan adzon yang berlangsung saat dimana pemimpinnya menggigit dan dzalim berkuasa. Fase ini sekitar 14 abad lamanya, yaitu ketika bani umayyah hingga turki utsmani.
4.Fase mulkan jabbariyah yang berlangsung setelah runtuhnya turki utsmani hingga pada saat ini (demikian perkiraan para ulama) dimana pemimpinnya diktator. Pada fase ini mulai banyak berkembang gerakan-gerakan muslim yang mengusung kembali tegaknya khilafah di muka bumi. Berbeda pada fase nubuwwah dan khilafah ala minhaj an-nubuwwah, fase ini belum terbentuk jamaatul muslimin dimana diwajibkan berbaiat kepada satu khilafah. Akan tetapi, karena muncul banyak jamaah maka dikenal istilah jamaatul minal muslimin.
5.Fase khilafah ala minhaj an-nubuwwah yang masih belum berlangsung dan masih diperjuangkan bersama pada saat ini. Fase ini akan hadir dengan kehendak Allah Swt. dengan perjuangan kaum muslimin mirip dengan masa-masa keemasan Islam seperti dulu.

Sekian isi ta’lim pada sesi talkshow kedua tanggal 24 Mei yang lalu. Mohon maaf jika terdapat kesalahan penulisan. Silakan disebarluaskan jika dibutuhkan. Semoga bermanfaat ya! Kita tunggu the next posting dari talkshow selanjutnya.
Subhanallahu wabihamdihi, alhamdulillahi robbil ‘alamin.

Kang Abdul Holid membawakan sesi ta'lim

Categories: Kampus dan Mahasiswa, Ke-KAMMI-an, Kegiatan KAMMI, Uncategorized | Tags: , | Leave a comment

Kado Cinta untuk Ayahanda

Sungguhnya, ada seseorang yang kelak di surga ditinggikan derajatnya , maka ia bertanya, apa yang menyebabkanku dinaikkan derajat surganya? Maka dikatakan kepadanya “Disebabkan istigfar anakmu untukmu”                    (H.R  Ahmad)
*****************************************************************************

“Aku lagi libur 2 minggu pak sakniki”  jawabku kepada bapak, ketika menelepon ke rumah.

“Lho, kok ga muleh sisan ngopo? Tanya bapak sambil tertawa.

“Wah, bolak-balik 4 juta je pak, ga ono duit”

“Alah, nek masalah duit gampang, hehehehe”.

  Harapan, sebuah harapan dalam candaan, dari orang tua ke anak rantaunya. Ketika kubertanya tentang kesehatannya, bapak menjawab “ Wes le, ra usah khawatir. Sinau ae, bapakmu ki ora popo. Nek pancen wes ajal, kwi cen es wayah e. Rasah dipikir”( Sudahlah nak, tak perlu khawatir. Belajar saja, bapakmu tidak apa-apa. Kalau memang sudah ajal, itu memang sudah waktunya. Ga perlu dipikirkan).

  Sebuah ungkapan untuk menghapus kekhawatiran seorang anak, dari seorang bapak yang sudah berumur 74 tahun. Mengharu biru.

Loncat ke masa yang berbeda.

  Masa ketika seragam masih putih hitam. Suatu ketika, kumencoba untuk mengukur kasih sayang orang tua dengan barometer harta. “Ah, bagaimana aku harus menghitungnya?” pikirku kala itu. Akhirnya kuputuskan untuk menghitung seluruh biaya yang kira-kira akan dikeluarkan oleh ayah bunda selama ku menempuh masa Sma. Biaya masuk + Spp  (selama 4 tahun)= 23.000.000. Wow, mana duit jajan belum saya tambahkan.

Mungkin kamu akan dapati nominal yang lebih besar.

  Banyak nggak sih uang segitu? Mungkin kamu akan menjawab, tergantung perekonomian keluarga dong mas. Nah, sekarang pertanyaannya, tahukan kamu tentang kondisi ekonomi keluargamu?

  Okelah, hal itu tidak perlu dijawab. Sekarang kita mencoba beralih dengan cara pandang orang tua. Pernyataan di bawah ini adalah hasil dari pengamatan pada percakapan yang terjadi di masayarakat kita. Bahkan kamu bisa dapati dalam tayangan keluarga ataupun buku bacaan.

  Jika di sana ada seorang anak yang baik, rajin dan berakhlak mulia, maka kira-kira begini ungkapan orang tua “ Ga rugi aku mengeluarkan biaya “….”  untuk sekolahmu”.

  Jika di sana ada seorang anak yang nakal, bandel plus berakhlak buruk, maka tak jarang keluar kata “Sudah mahal ku sekolahkan dirimu, tapi mana hasilnya?”

Artinya apa? Biaya belajar kita selama ini = mahal.

Mungkin saat kita menjadi orang tua nantinya, kita baru bisa merasakannya. Tapi minimal pikirkanlah.

  Bukalah mata kalian dan lihatlah, begitu besar kepercayaan orang tuamu kepada dirimu. Berusaha memberikan yang terbaik untuk buah hatinya dengan segenap jiwa raga.

Apa sih yang diinginkan mereka kepada kita?

Sebuah pertanyaan yang mungkin perlu kamu tanyakan kepada orangtuamu.

  Meloncat ke masa yang berbeda.  Disaat ku telah menyelesaikan jenjang Sma, dan berusaha menapaki pendidikan yang lebih tinggi di jakarta. Singkat cerita, aku pun harus kembali ke jogja dengan status masih sama. Lulusan Sma. Terbesit keinginan dalam hati untuk banting stir menjadi ust ngabdi.

“Pak, saya ga lulus ujian pendaftaran kuliahnya. Trus aku pingin ngabdi dulu saja. Mungkin, nanti bisa mencoba kembali” ungkapku kepada bapak.

“Wes karepmu le. Kwe arep kuliah ning ndi, opo arep nang ndi terserah kowe. Sing penting intine kwe dadi anak sing sholeh wae. Wes arep dadi opo wae, sing penting sholeh” (bhs jawa : Terserah kamu nak. Kamu mau kuliah di mana saja, atau mau ke mana saja terserah kamu. Yang penting, intinya kamu jadi anak soleh. Sudahlah, mau jadi apa saja, yang penting sholeh) Jelas bapak.

Ternyata benar, impian orang tua untuk anaknya itu tak lebih dari 2 kata. Anak Sholeh.

Cobalah kamu bertanya kepada orangtuamu, apa sih impian mereka buat dirimu?

  Mungkin selama ini kamu merasakan ada tekanan tertentu dari bapak ibumu. Mereka seakan memaksakan suatu hal kepadamu yang tidak kamu suka. Bahkan kamu sampai berteriak “ WAHAI AYAH BUNDA, MOHONLAH KALIAN SEDIKIT BIJAKSANA, MOHONLAH KALIAN PAHAMI DIRIKU”. Ya, hati kalian meronta. Seakan kehendak orang tua itu menghadang cita-cita.

  Padahal, tidak ada orangtua anda yang berpikiran demikian. Mereka berdua hanya menginginkan kebaikan.
Yang perlu kita lakukan adalah Menjadi anak yang lebih bijaksana. Menjadi anak yang bisa memahami orangtuanya. Menjadi anak yang akan menggapai harapan mereka.

  Bukan sebaliknya, meminta orangtua memahami kita. Ketahuilah, mereka juga pernah hidup seperti kita, menjadi anak Sma. Tetapi tidak sebaliknya, kita belum pernah hidup menjadi orang tua.

  Adik-adikku semuanya, jadikanlah dirimu sekarang ini, setelungkup tangan yang menjaga api lilin harapan orang tua di antara badai dunia. Yakinkanlah pada hati mereka bahwa kalian akan berusaha sebaik mungkin untuk memenuhi impian mereka. Jangan pernah sekalipun menghianati kepercayaan mereka kepadamu. Pengorbanan mereka besar, maka tunjukkan semangatmu yang besar.

  Adik-adikku semua, suatu ketika, kita juga akan menjadi orang tua. Jika kita ingin menjadi orang tua yang bahagia, maka bahagiakanlah orang tua kita sekarang. Jadilah seperti yang mereka harapkan. Maka nantinya, anak-anak kalian pun akan menjadi yang seperti kalian harapkan.

Seorang anak yang sholeh

Menyendiri di dalam masjid sepi

Mengaji, mempelajari kitab suci

Berakhlak mulia

Indah di mata sahabat dan ustadznya

Selalu ceria

Optimis

Membuat orang disekitarnya nyaman disisinya

Anak sholeh itu adalah “kamu”

Walaupun orangtuamu tak tahu

Jika mereka menyadarinya

Mata ayah bunda kan berkaca-kaca

Melihat pemandangan indah tak terkata

Yang akhirnya terlantun doa

Surga, tempat kita kan bersua

Yaa Rabb, ampunilah diriku, serta keduaorangtuaku. Dan kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka mengasihiku sewaktu kecil. Amin

image

Anak sholeh yang mendoakan orangtuanya.
Dari sahabat kalian, yang mencintai kalian, agar kalian mencintai-Nya dan orang tua yang kita punya.

==========================
By : MahasiswaGalau

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Indahnya Ukhuwah Islamiyah KAMMI

Assalamualaykum akhi wa ukhti,
Selamat pagi! Udara dipagi hari kota bandung selalu sangat segar :). Semoga kita selalu diberi kesehatan jasmani maupun rohani… Alhamdulillah KAMMI Komisariat STKS baru saja sukses menyelenggarakan kegiatan KAMMI diluar kampus.
Continue reading

Categories: Uncategorized | 3 Comments

Jangan lupa mati, Boi!

Kenapa pemuda sangat suka membahas soal cinta?

Karena cinta itu sebenarnya mudah.

Mudah diceritakan, mudah dirasakan, mudah dimengerti.

Karena mudah, makanya semua orang dengan mudahnya pula membicarakan cinta. Pembicaraan yang tinggi menghasilkan ragam yang tinggi, interferensi di sana sini, dan hasilnya sesuatu yang simpel berubah menjadi complicated. Ditambah lagi dengan perilaku manusia yang selalu butuh second opinion. Most of the time, kita tahu apa yang harus dilakukan: kita hanya perlu diyakinkan. Itulah mengapa pekerjaan menjadi konsultan cinta menjamur macam ojek payung di musim hujan.

Tahu apa yang sulit untuk dibahas? Mati.

Mati tidak banyak dibahas karena memang sulit untuk membahasnya. Kita semua mencintai kehidupan, dan secara tak sadar “dididik” untuk selalu mencintai kehidupan. Di SD, kita diajari untuk siap masuk SMP. Di SMP kita diajari untuk siap masuk SMA. Di SMA, kita diajari untuk siap masuk kuliah. Di kuliah, kita diajari untuk siap masuk kerja. Dan di dunia kerja, siklus ini terus berlanjut hingga bersayap-sayap; yang jomblo siap menikah, yang menikah siap punya anak, yang karyawan siap naik jabatan, yang berpolitik siap naik kepemimpinan, yang berbisnis siap naik omzet, dan seterusnya, hingga tidak ada habisnya.

Kita selalu dituntut untuk siap menghadapi kehidupan; tapi siapkah kita menghadapi kematian?

Dzuhur tadi, saya dan teman di kantor naik motor ke masjid. Di jalan pulang kami bertemu dengan seorang lelaki tua yang juga ikut sholat berjamaah. Bapak ini wajahnya keriput, jalannya bungkuk, dan kulit-kulitnya sudah berkerut. Tapi semangatnya ke masjid tak pernah luntur. Setiap hari dia selalu hadir ke masjid berjalan kaki. Sementara saya, meskipun naik motor, masih sering harus memaksa-maksakan diri.

Mengapa masjid lebih banyak diramaikan oleh orang tua dibanding anak muda? Salah satu jawabannya adalah karena anak muda lebih banyak sibuk bicara soal cinta, sementara orang tua sadar waktunya sudah di ujung kehidupan. Tak ada lagi yang penting untuk dipikirkan, kecuali kematian.

Rasa-rasanya belum terlambat untuk berubah dari pemuda yang hanya bicara soal cinta, menjadi pemuda yang juga selalu ingat tentang mati. Karena kalaupun kita hanya mau bicara soal cinta, mati ternyata adalah bagian terakhir darinya.

Segala hal dalam hidup ini terjadi tiga kali, Boi. Pertama lahir, kedua hidup, ketiga mati. Pertama lapar, kedua kenyang, ketiga mati. Pertama jahat, kedua baik, ketiga mati. Pertama benci, kedua cinta, ketiga mati

Semua berakhir dengan mati, termasuk cinta. Setidaknya, itu kata Andrea Hirata.

Jangan lupa mati, Boi”MUSLIM MUDA

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.