Posts Tagged With: Pemimpin

DM I KAMMI Komisariat ITB-STKS “How to Lead with Heart?”

Oleh Nur Khamidah (Kader baru KAMMI STKS Bandung)

Dimulai dari kata DM I terlebih dahulu. DM I yang diselenggarakan oleh KAMMI merupakan suatu kegiatan pengkaderan yang tadinya menurut pikiran dan bayangan saya sama saja dengan kegiatan pengkaderan lainnya yang pernah saya ikuti walaupun saya hanya mengikuti satu kegiatan dari LDK KMM STKS Bandung. Dengan bekal apa adanya saya memberanikan mendaftarkan diri dalam kegiatan ini tanpa saya tahu akan jadi seperti apa saya nantinya. Tetapi alhamdulillah teman-teman saya merupakan kader dari KAMMI sendiri, jadi rasa takut yang tadinya melanda saat awal pendaftaran semakin berkurang.

DM I KAMMI bagaimana cara saya harus meminta izin kepada kedua orang tua untuk mengikuti kegiatan ini? Bagaimana saya harus menjelaskan kepada orang tua tentang KAMMI, sementara saya buta tentang KAMMI sendiri? Bagaimana jika nanti tidak mendapat ridho dari orang tua untuk masuk ke dalam barisan ini, bukankah ridho Illahi juga ada pada ridho orang tua?

Dengan semua pertanyaan itulah saya memulai mendaftar untuk DM I ini. Dengan hati-hati meminta izin kepada orang tua untuk mengikuti kegiatan ini. Dengan bahasa yang lembut pula saya meminta izin dan ridho dari orang tua yang berada di bumi Allah di Kendal. Izin untuk mengikuti kegiatan ini pun dikantongi, walaupun saya menangkap sebuah redaksi yang sebenarnya menyarankan untuk tidak mengikuti kegiatan ini dengan berbagai alasan dan ketakutan orang tua terhadap organisasi islam di kota sebesar Bandung.

Bermodalkan izin yang belum sepenuhnya diberikan saya mantap melangkah ke dalam barisan ini sekaligus mencari jawaban dari semua pertanyaan yang ada dalam diri saya. Waktunya pun tiba, kegiatan yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Babussalam Ciburial. DM I pun dimulai. Saya bertemu akhwat-akhwat yang baik dalam kegiatan ini. Meskipun peserta akhwat hanya berlima, dua dari STKS dan tiga dari UPI itu semua tidak menghalangi langkah saya dan para akhwat lain yang juga baru masuk dalam barisan ini.

Continue reading

Categories: Kegiatan KAMMI | Tags: , , , , , | 2 Comments

[INFO] Training Leadership KAMMI ITB-STKS Bandung pada 26-28 April 2013

DM#1 KAMMI ITB-STKS April 2013

Categories: Pengumuman&Informasi | Tags: , , , | 2 Comments

Monumen 15 Tahun KAMMI

“Mencari Pemimpin Bandung Baru Masa Depan”

Dayeuh Kolot – Bandung, Aula Politeknik Telkom. Gemerlap hadir untuk disaksikan dan momentum hadir memang untuk direfleksikan. Pun demikian dengan risalah perjalanan serta perjuangan Kesatuan Aksi yang mengatasnamakan Mahasiswa Muslim di Indonesia. Populer dikenal dengan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).

Penggerak reformasi di 1998 kini tengah mencapai usia remajanya di 2013. Lima Belas Tahun terperingati sebagai momentum milad KAMMI. Ibarat tonggak sejarah atau monumen yang ada untuk dijadikan sebagai pengingat bahwa pernah ada suatu peristiwa, edisi kali ini satu inisiatif hadir untuk menjadikan 29 Maret 2013 sebagai langkah refleksi keberjalanan KAMMI sebagai punggawa perjuangan dan pergerakan mahasiswa, Bandung sebagai spesifikasi lokasi kemantapan. Tercetus sebelum reformasi 1998, terkokohkan dengan aksi Mei 1998 dan terakar dalam wujud aksi dan dharma kiprah perjuangan untuk Indonesia dan kebangkitan ummat.

Terhadiri oleh sekitar 100-an kader KAMMI Bandung, pembukaan rangkaian Milad 15 Tahun KAMMI terlaksana dengan semarak, sarat pemberian gagasan tegas serta refleksi. Dalam rangka menyambut dan sebagai bagian dari pengawalan kinerja untuk mencetak pemimpin masa depan Indonesia yang Islami PD KAMMI Bandung menyelenggarakan kegiatan Milad dengan tema “Mencari Pemimpin Bandung Baru Masa Depan” menghadirkan Taura Taufikurrahman, Tokoh Kota Bandung selaku pembicara dan bersanding dengan Ketua PD KAMMI Bandung, Sahrul Mulia Siregar.

Diskusi Publik 15 Tahun KAMMI di Bandung 29 Mar 2013 Continue reading

Categories: Kegiatan KAMMI | Tags: , , , , , | Leave a comment

Kesahajaan Sang Pemimpin

Kesahajaan Sang Pemimpin

Oleh Adinda Ahdaka*

Penguasa adalah pemimpin diantara rakyatnya. Al-Quran menyebut pemimpin atau khalifah dalam Surah Al-Hajj: 41, ”Orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi ini, niscaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf (baik) dan mencegah perbuatan yang munkar.” Makna ayat itu sangat luas, menyangkut kewajiban menjalin hablum minallah, hablum minannas, alam semesta, berbuat baik, mencegah keburukan, baik menurut agama, sosial, politik, ekonomi bahkan budaya. Kriteria inilah yang seharusnya dimiliki oleh para pemimpin di negeri ini.

Mengenang sebuah kisah ketika sesaat setelah Rasulullah wafat, kaum Muslimin segera mencari pengganti untuk melanjutkan kepemimpinan Islam. Ketika itu Abu Bakar memegang tangan Umar bin Khaththab dan Abu Ubaidah bin Jarrah sambil mengatakan kepada khalayak umum, “Salah satu dari kedua orang ini adalah yang paling tepat menjadi khalifah sebagai pengganti Rasulullah. Umar yang dikatakan oleh Rasulullah sebagai orang yang dengannya Allah memuliakan Islam dan Abu Ubaidah yang dikatakan Rasulullah sebagai kepercayaan ummat ini.”

Tangan Umar gemetar mendengar kata-kata Abu Bakar itu, seakan ia kejatuhan bara yang menyala. Abu Ubaidah menutup mukanya dan menangis dengan rasa malu yang sangat. Umar bin Khaththab lalu berteriak, “Demi Allah, aku lebih suka dibawa ke depan lalu leherku ditebas walau tanpa dosa, daripada diangkat menjadi pemimpin suatu kaum dimana terdapat Abu Bakar.”

Pernyataan Umar ini membuat Abu Bakar terdiam, karena tidak mengharapkan dirinya yang ditunjuk menjadi khalifah. Dia menyadari dirinya sangat lemah dalam mengendalikan pemerintahan. Tidak setegas Umar dan tidak sebijak Abu Ubaidah.

Tapi akhirnya pikiran dan perasaan semua orang terarah kepada Abu Bakar. Karena dialah sesungguhnya yang paling dekat, ditinjau dari berbagai aspek, untuk menduduki jabatan khalifah yang teramat berat ini. Setumpuk alasan dapat dikemukakan untuk menunjuk Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai khalifah. Dialah orang yang dianggap paling dekat dengan Rasulullah SAW dan paling kuat imannya, sesuai pernyataan Nabi, “Kalau iman seluruh ummat Islam ditimbang dengan iman Abu Bakar, maka lebih berat iman Abu Bakar.”

Maka terangkatlah Abu Bakar sebagai khalifah pengganti Nabi SAW. Saat pertama kali Abu Bakar menginjakkan kaki di mimbar Rasulullah, ia hanya sampai pada anak tangga kedua dan duduk di situ tanpa berani melanjutkan ke anak tangga berikutnya, sambil berpidato, “Wahai sekalian manusia. Sesungguhnya aku diangkat menjadi pemimpin kalian, tapi aku bukanlah orang yang terbaik di antara kalian. Jika aku berbuat baik, maka bantulah aku. Dan jika aku berbuat kesalahan, maka luruskanlah aku. Ketahuilah, sesungguhnya orang yang lemah di antara kalian adalah orang yang kuat di sisiku, hingga aku berikan hak kepadanya. Taatlah kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka jika aku durhaka, janganlah kalian taat kepadaku.”

Continue reading

Categories: Sirah Rasulullah dan Sahabat | Tags: , , , , | 2 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.