Author Archives: KAMMI STKS

About KAMMI STKS

KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) STKS Bandung adalah salah satu wajihah dakwah yang berada di lingkungan STKS Bandung. Dengan semangat Amar Ma'ruf dan Nahi Munkar, berjuang memusnahkan kebatilan dan menegakkan keadilan. Salam hangat dan semangat selalu dalam perjuangan Dakwah KAMMI. Selasa, 07 Februari 2012

Curi Ilmu dari Moonraker Indonesia

Begini, memang terkadang sambutan-sambutan saat berlangsungnya sebuah acara dianggap basi dan tidak penting. Namun, ada yang berbeda pada sambutan malam hari ini yang dibawakan oleh pejabat Dispora Jabar dalam acara Bandung Berdzikir di Masjid Al Ihsan STKS Bandung. Sambutan beliau tidak serupa balon gas yang jika terkena benda tajam (realita hidup) akan langsung pecah dan hilang (omong kosong). Isi sambutan beliau seperti memiliki nyawa dan hidup. Meskipun subjek alamat isi sambutan beliau tertuju bagi Komunitas Moonraker Indonesia, rasanya bagi kita yang sama-sama menggeluti bidang dakwah ‘beresiko’, sambutan beliau patut kita cerna sebagai nasihat agar dapat menutrisi gerak langkah kita.

 
Ayo kita curi ilmu dari nasihat bapak pejabat Dispora Jabar tersebut kepada Komunitas Moonrakers Indonesia! Apakah itu?

 
“Militansi dan Loyalitas”, sang bapak pejabat Dispora Jabar menegaskan begitulah kira-kira dalam pembukaan sambutannya. Kemudian beliau melanjutkan, “Saya melihat militansi dan loyalitas Moonraker sangat tinggi dan itu adalah pokok yang penting”.

 

Yuuups. Bagaimana dengan kita? Tentunya militansi dan loyalitas ini jauh teramat penting bagi organisasi dakwah intelektual ini. Apalagi yang pantas kita perhatikan untuk memenangkan beratnya perjuangan dakwah intelektual di kampus ini selain militansi dan loyalitas. Sejenak merenung, kita justru seringkali kehilangan ini. Jika melihat betapa bergeloranya panitia Moonraker Indonesia sebagai unit penyelenggara acara Bandung Berdzikir sore hingga malam tadi, kita perlu mengangkat topi dan berguru kepada mereka. Salute.

 
Why?

 
Kita sepertinya patut merundukkan tengkuk kepala kita; malu. Datang syuro rutin saja masih terasa sangat amat berat sekali. Kalau hujan, malas kena becek; kalau panas, malas kena keringat. Belum lagi kalau ada kegiatan internal. Tanggal sekian bentrok kegiatan di sana; jam sekian lupa sudah ada akad yang ini. Atau parahnya lagi, lupa samasekali. Untuk hal kecil lainnya juga keadaannya kadang lebih menyedihkan. Saat ditanya kabar bagaimana kabar saudara kita yang lama tidak menghadirkan diri, gampangnya kita melempar jawab: tak tahu, sudah lama tak berhubungan. Padahal, kuat-lemahnya ukhuwah kita dapat terukur dari seberapa jauh kita tahu kabar saudara kita.

 
Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun. Subhanallah. Ini bisa jadi musibah kedepannya jika terus terjadi. Maka seperti dalam sambutan bapak pejabat Dispora Jabar diawal tadi, militansi dan loyalitas adalah nasihat solutif agar kita dapat semilitan dan seloyal Moonraker Indonesia dalam kompakan mengegas motor dan dakwahnya hehehee.

 
“Militansi dan loyalitas amat berarti. Apalagi ditujukan kepada perubahan. Misalnya, Moonraker menujukan militansi dan loyalitasnya dalam segi agama, sosial, maupun keorganisasian itu sendiri dan keahlian seperti lokomotif. Itu akan sangat membangun Moonraker”, pak pejabat Dispora Jabar menerangkan Poin Kesatu dalam sambutannya.

 
Betul sekali. Saat ini kita perlu kembali menyadari adanya kebutuhan untuk meluruskan orientasi dakwah kita. Apakah akan selamanya fokus ke luar, ataukah fokus ke dalam, ataukah kedua-duanya. Selama ini kita sadari, kita masih tergoda dan tergiur dengan aktivitas luar. Sampai ketika tiba di rumah sendiri, saking lelahnya, kita memilih terlelap istirahat. Nah, kita perlu bersepakat bersama meneguhkan komitmen, bentuk militansi kita harus seperti apa sih.

 
“Militansi dan loyalitas yang terbangun kuat akan melahirkan kader-kader terbaik”, kata bapak pejabat Dispora Jabar melanjutkan Poin Kedua dalam sambutannya.

 
Alright. Memang, tidak ada yang selalu sempurna dalam sikap militansi dan loyalitas kita. Sehingga kader-kader terbaik tak kunjung terbentuk sebab di dalam langkah sebelumnya terjadi silap keputusan. Akan tetapi, bagi setiap kita kembali perlu memahami satu hal bahwa menuntut lingkungan saja tidak sampai cukup membawa perubahan. Yuk, mari kita jadikan diri kita masing-masing creator perubahan itu sendiri. Semoga Allah memadankan kita dalam langkah yang serasi.

 
“Optimalkan kemampuan untuk bersinergi dengan yang lain”, lanjut bapak pejabat Dispora Jabar melanjutkan Poin Ketiga dalam sambutannya.

 
Kita perlu menyadari letak potensi jamaah kita. Kita moderat dalam bergaul dengan lingkungan, tetapi diperintahkan keras terhadap diri sendiri. Kita bercita-cita tinggi, tetapi pertama kali diajarkan cara membuat roketnya terlebih dahulu. Apakah kita unggul dalam hal sosial, ataukah kajian, ataukah politik, ataukah apa? Ayo kita tentukan bersama sehingga mampu memberikan ‘produk dakwah’ unggulan kepada lingkungan. Branding akan terbentuk saat kita istiqomah menjalankannya sembari memperbaiki yang salah.

 
“Satukan barisan untuk dunia dan akhirat untuk mencapai tujuan utama organisasi”, bapak Pejabat Dispora menutup pada Poin Kelima (untuk Poin Keempat mohon maaf terlewat).

 
Hal apalagi yang menjadi wujud loyalitas itu selain merapatkan barisan dan wujud militansi itu adalah usaha yang keras untuk mencapai tujuan utama organisasi? Berbeda dengan organisasi lainnya, orientasi kita jauh berada di luar jangkauan human vision. Allah dan Rasul tujuan kita. Sebagai jamaah dakwah, amal jama’i salah satu bentuk loyalitas dan militansi menuju cita-cita organisasi. Mungkin saatnya kita menata prioritas langkah yang bercabang ini, ya.

 
Pada akhirnya, bapak pejabat Dispora Jabar itu menutup sambutannya dengan satu bingkisan motivasi dan harapan, “Hilangkan (bersihkan) noda hitam dan kembalikan menjadi bersih”. Artinya, setiap kita pasti melakukan kesalahan yang menjadi titik noda dalam sejarah perjuangan. Akan tetapi, dibandingkan harus menambah titik hitam itu, kita seharusnya menghapusnya dengan memperkuat kompetensi kita.

Categories: Motivasi | Tags: , , , | Leave a comment

Hijrah Membaca Zaman

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh!
Bismillahi ar-rahmanirrahim🙂
Apa kabar muslim negarawan? Lama tak berjumpa di ruang interaksi virtual ini ya.

Beberapa waktu lalu KAMMI STKS Ar Ruhul Jadid telah mengadakan kagiatan ta’lim yang dibungkus dengan gaya kekinian berupa talkshow. Kegiatan ta’lim ini dilangsungkan menjadi tiga rangkaian talkshow dimana tema besarnya adalah Hijra Talkshow The Series. Ada tiga subtema dan dua diantaranya alhamdulillah sudah dilaksanakan dengan lancar. Subtema pertama adalah ‘Hijrah Hati Menuju Zaman’, kedua adalah ‘Hijrah Membaca Zaman’ dan yang ketiga adalah ‘Hijrah Untuk Peradaban’. Dua talkshow yang sudah berjalan tersebut dihadiri pemuda-pemuda terbaik negeri ini, diantaranya mahasiswa STKS dan juga tentunya para petangguh kader KAMMI STKS. Pemateri yang kami undang berasal dari aktivis mumpuni dalam bidangnya dan matang dalam ilmu yang akan disampaikan.

Hijrah Talkshow The Series

Nah, kali ini kita sama-sama akan menyimak kembali ilmu yang telah kita dapat pada sesi kedua talkshow dengan subtema ‘Hijrah Membaca Zaman’. Talkshow kedua ini dibawakan oleh Kang Abdul Holid. Beliau merupakan Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) REMA UPI dan Ketua Komunitas Pemuda Al-Fatih Bandung. Beginilah beberapa sari ringkasan ilmu yang disampaikan beliau.

“Saat pertama kali saya diminta membawakan tema tentang Hijrah Membaca Zaman, saya agak bingung bagaimana yang dimaksud sebenarnya. Akan tetapi, kita coba bersama-sama bahas bagaimana hijrah itu sendiri dan apa yang ingin kita capai darinya”, begitulah kira-kira Kang Holid membuka ta’lim pada sore hari itu.

Ayo, mari kita langsung saja kepada isi talkshow..
Pembahasan pertama oleh Kang Holid adalah tentang zaman. Ia menyampaikan bahwa perempuan mempunyai tugas utama dalam zaman ini, yaitu mendidik zaman. Dialah sosok utama dibalik roda gerakan zaman. Selanjutnya, masuk kepada pembahasan tentang hijrah. Untuk memudahkan kerangka pemahaman, Kang Holid menggambarkan skema berikut ini:

Pyramid of Muslim's Life

 

H I J R A H. Kang Holid menyampaikan 3 pengertian tentang hijrah, yaitu 1) hijrah berarti kondisi seseorang mendapatkan hidayah sehingga masuk ke dalam agama Islam – konteks ini terjadi pada zaman kenabian, 2) hijrah berarti perjalanan dari satu tempat ke tempat lain yang lebih baik, dan 3) hijrah berarti mengubah perilaku hidup yang Islami. Hijrah yang berarti mengubah perilaku menjadi Islami adalah konteks pengertian yang banyak digunakan pada zaman sekarang. Sudah banyak kini muslimah-muslimah yang dulunya tidak menutup aurat dan kini telah hijrah menutup auratnya dengan berkerudung serta berpakaian tertutup rapi. Atau, kini telah banyak muslimah yang duluya menutup aurat, tetapi belum memenuhi kaidah syariah dan kini sudah hijrah menggunakan kerudung serta pakaian yang lebar-lebar. Bagi laki-laki, kini telah banyak yang hijrah dan mengikuti sunnah seperti tidak isbal dan memelihara jenggot. Sejatinya, hijrah adalah satu step dasar seseorang menuju generasi robbani.

 
T S A Q O F Y. Tsaqofy atau wawasan adalah tahap dimana seseorang melengkapi proses hijrahnya dengan memperbanyak mendalami ilmu agama. Tahap ini ditandai dengan tertautnya seseorang pada ta’lim-ta’lim dan meningkatnya ilmu-ilmu agama yang dimiliki setelah berhijrah. Contohnya adalah seseorang akan mulai mempelajari tafsir Al Qur’an dan hadis-hadis Rasulullah Saw. untuk diterapkannya dalam kehidupan sehari-hari serta rajin pergi menghadiri majlis ta’lim. Kang Holid menambahkan bahwa seseorang tidak cukup menapaki tahap tsaqofy, tetapi butuh pemahaman untuk bertindak secara bijaksana. Alasannya, umat muslim saat ini memiliki wawasan tinggi, namun tidak melekat padanya hikmah dari wawasan yang dimiliki.

 
Tsaqofy digunakan untuk mengisi ruang-ruang peradaban. Ia perlu diseimbangkan agar tidak terlalu ‘ke kanan’ maupun juga terlalu ‘ke kiri’. Jika terlalu ‘ke kanan’ cenderung akan kaku dan mudah menyalahkan, sedangkan jika terlalu ‘ke kiri’ cenderung akan menyeleweng dan menyelisihi ajaran Islam. Kang Holid memberikan tips bagi organisasi Islam agar dapat meningkatkan wawasan bagi anggotanya, yaitu dengan mengadakan kegiatan rutin yang mengusung brand menarik dan melakukan pengkaderan (jantungnya). Branding berfungsi agar membuat anggota dan luar anggota tertarik menghadiri ta’lim. Sedangkan, pengkaderan dianggap amat penting sehingga dikatakan sebagai jantung karena jika tidak dilakukan maka organisasi pasti akan hilang.

 
Tsaqofy juga digunakan menjadi inti di dalam dakwah. Menggunakan tsaqofy ini sebagai inti dakwah dengan aturan bahwa ketika ‘X’ melakukan perbuatan salah, da’i memberi tahu ‘X’ mana yang benar lebih dahulu. Tsaqofy tidak boleh digunakan semata-mata hanya memberi tahu kesalahan yang diperbuat oleh ‘X’ saja. Baiknya tsaqofy ini digunakan tidak dituturkan dengan sikap yang terlalu idealis sehingga membuat dirinya sendiri selalu memandang kesalahan pada diri orang lain

R O B B A N I. Robbani memiliki ciri-ciri selalu mengikuti perintah Allah Swt. Sedangkan, rabbani digambarkan oleh Kang Holid dengan simbol pernyataan “muslim yang taat ke Allah Swt., yang manfaat ke manusia”. Robbani tidak lagi hanya menghapal, tidak lagi hanya pintar, dll. tetapi meresapi, memahami dan memberi hikmah kepada orang lain. Seseorang yang menapaki tahap ini tidak lagi memusatkan perhatian kepada diri sendiri, tetapi juga kepada lingkungan sekitarnya. Ia berkhidmat dengan ilmunya. Dalam segi ibadah, Kang Holid memberikan nasihat agar kita dapat membedakan antara profesionalitas dengan keikhlasan. Seseorang yang menjalankan ketaatan kepada Allah Swt. adakalanya perlu menampilkan diri dengan menampakkan contoh yang nyata pada dirinya agar orang-orang dapat mengambil teladan dan hikmah. Adakalanya pula perlu menyembunyikan diri dari pandangan orang lain. Keduanya perlu ditempatkan dengan benar. Kang Holid menggambarkan bahwa profesionalitas adalah sesuatu yang dilihat oleh orang dari lahiriyahnya (dzahir/ manfaat), sedangkan keikhlasan menjadi ranah manusia berdua dengan Allah Swt.

Foto bersama

Generasi robbani hadir dengan upaya yang digerakkan oleh kita semua. Kang Holid menyampaikan salah satu sarana utama dalam membentuk dan mencapai robbani adalah dengan tarbiyah. Tarbiyah atau pembinaan ini berbeda dengan ta’lim yang hanya kegiatan mentransfer ilmu saja. Tarbiyah bersifat kontinu dan berkelanjutan, ia juga menyertakan dampak atau manfaat kepada penekunnya.

 
Tambahan. Kang Holid menyampaikan satu ilmu isinya bahwa zaman terbagi lima fase:
1.Fase nubuwwah yang berlangsung pada zaman kenabian hingga beliau wafat. Fase ini sekitar 23 tahun lamanya dan memiliki dua kategori masa, saat di Makkah dan saat hijrah ke Madinah.
2.Fase khilafah ala minhaj an-nubuwwah yang berlangsung pada zaman khulafaur rasyidin dan beberapa tahun setelahnya. Fase ini sekitar 30 tahun lamanya
3.Fase mulkan adzon yang berlangsung saat dimana pemimpinnya menggigit dan dzalim berkuasa. Fase ini sekitar 14 abad lamanya, yaitu ketika bani umayyah hingga turki utsmani.
4.Fase mulkan jabbariyah yang berlangsung setelah runtuhnya turki utsmani hingga pada saat ini (demikian perkiraan para ulama) dimana pemimpinnya diktator. Pada fase ini mulai banyak berkembang gerakan-gerakan muslim yang mengusung kembali tegaknya khilafah di muka bumi. Berbeda pada fase nubuwwah dan khilafah ala minhaj an-nubuwwah, fase ini belum terbentuk jamaatul muslimin dimana diwajibkan berbaiat kepada satu khilafah. Akan tetapi, karena muncul banyak jamaah maka dikenal istilah jamaatul minal muslimin.
5.Fase khilafah ala minhaj an-nubuwwah yang masih belum berlangsung dan masih diperjuangkan bersama pada saat ini. Fase ini akan hadir dengan kehendak Allah Swt. dengan perjuangan kaum muslimin mirip dengan masa-masa keemasan Islam seperti dulu.

Sekian isi ta’lim pada sesi talkshow kedua tanggal 24 Mei yang lalu. Mohon maaf jika terdapat kesalahan penulisan. Silakan disebarluaskan jika dibutuhkan. Semoga bermanfaat ya! Kita tunggu the next posting dari talkshow selanjutnya.
Subhanallahu wabihamdihi, alhamdulillahi robbil ‘alamin.

Kang Abdul Holid membawakan sesi ta'lim

Categories: Kampus dan Mahasiswa, Ke-KAMMI-an, Kegiatan KAMMI, Uncategorized | Tags: , | Leave a comment

Pengurus Pusat KAMMI 2015 – 2017

KAMMI Komisariat STKS Bandung mengucapkan selamat atas dilantiknya pengurus baru PP KAMMI periode 2015 – 2017.

Allahu Akbar!

Barakallahu fiikum. Semoga tampuk kepengurusan yang kini berlangsung akan menciptakan kerja-kerja barokah untuk agama, bangsa, dan negeri.

PP KAMMI 2015-2017

STRUKTUR PENGURUS PUSAT

KESATUAN AKSI MAHASISWA MUSLIM INDONESIA

PP KAMMI 2015 – 2017

Ketum : Kartika Nur Rakhman, SP

WaKeum : Arif Susanto

SekJend : Irfan Ahmad Fauzi, S.Pd

Wa SekJend I : Ali Bastoni, SP

Wa SekJend II: M Perdana, S.Si

Bendum : Edi K.

WaBendum I : Muhamad Habibi

WaBendum II: Indriyani Agustina

Ketua I Bid Pembinaan Kader : Arif Ichwani, ST

KaDep Kaderisasi: Yasir Syaifurrahman, S.Pi

KaDep Instruktur: Rani Sintawati, S.Pd

KaDep Pemandu: Sanda Rangga S

KaDep Dakwah: Ahmad Walid, M.Pd

Ketua II Bid Perempuan : dr. Ni Nyoman Indirawati

KaDept Pengembangan: Ulfah Rahmayani, S.Kel

KaDep Advokasi: Sitti Heliana, ST

Ketua III Bid Pengb SDM Strategis : Robert Edy S, M.Pd

KaDep Litbang : Ade Irma SN

KaDep Kompetensi & Pengkaryaan: Anis Maryuni Ardi, S.IP

KaDep Perguruan Tinggi : Neneng Maryam, M.Pd

Ketua IV Bid Pengembangan Wilayah: Afri Darmawan

KaDep Pembinaan : Abdul Jabbar

KaDep Organisasi : Siti Wulansari Rasidi

Ketua V Bid Kebijakan Publik: Aza El Munadiyan, S.Si.,MM.

KaDep Politik: Romidi Karnawan

KaDep Ekonomi: Eko Wardaya

KaDep Hukum & HAM: Irawan Malebra, SH

KaDep Pendidikan & Kesehatan : Nur Afilin

Ketua VI Bid Humas : Safarino Novarizal

KaDep Jaringan : Arif Budi H

KaDep Media: Wahyu Panca Hidayat, S.Pd

Ketua VII Bid Ekonomi: Barry Pratama

KaDep Kewirausahaan: Rico Putra Tanjung

KaDep Ekonomi Kreatif: Ihya Udin Rosyadi, S.Sos

Ketua VIII Bid Sosmas : Firman Reza

KaDep Pembd Masyarakat: Arjun Fatahillah

KaDep Adv Masyarakat: Hilman Hilmawan

Ketua IX Bid Seni Budaya Olahraga: M. Maulana SA

KaDep Seni & Budaya: Kharis Pradana

KaDep Olahraga: Husain Fata Mizani

Ketua X Bid Hub Luar Negeri: Ade Nuansa Wibisono, M.Si

KaDep Kajian Internasional: Hidayah Sunar Perdanastuti, S.Farm, Apt.

KaDep Jaringan Luar Negeri: Imran Gurucci

KaDep Dunia Islam: Susanto Triyogo, ST

Ketua Teritorial

SumaBagUt: Agung Nugroho

SumBagSel: Rion Frianda

Jawa Bag Barat: Mahmuri Ar Rofe’i

Jawa Bag Timur: Wahyu Dani

Balinusra: Taufik Hidayat

Kalimantan: Laifvan Shuffy Irwani, M.Pd

Sulawesi: Alwan Rikun

InTim: Sarni S Walanda

Direktur LSO

Sekolah Perempuan Indonesia: Endang Dzunuraini

Korps Reaksi Cepat: Liyuda Saputra

KAMMI Pencinta Alam: M Azami Ramadhan

@KAMMIPusat

sekretariat@kammi.or.id

Categories: Pengumuman&Informasi | Tags: | 1 Comment

Rihlah KAMMI STKS

 

Sudah menginjak satu bulan setelah kegiatan Rihlah KAMMI Komisariat STKS ini berlalu. Rasanya agak sayang jika momen Rihlah ini terlewatkan begitu saja atau hanya menjadi sekadar kenangan yang mengalir bersama angin. Alangkah manisnya jika kita diabadikan melalui tulisan ini. Suatu saat, kita akan mengingat kembali bahwa kita pernah berjalan jauh menyusuri alam Dago bersama. Sekalipun lupa, semoga tulisan sederhana ini akan membangkitkan memori kita kembali😉

Momen kami, momen kita bersama

Momen kami, momen kita bersama

Hari itu 17 Oktober 2015, tepatnya jatuh pada hari Sabtu, adalah momen bersejarah yang tak terlupakan. Dipandu oleh seorang ustadz berjiwa petualang, kami yang terdiri dari 5 orang ikhwan dan 5 orang akhowat siap melaksanakan kegiatan Rihlah (semi mukhayyam—we said) menuju destinasi yang dirahasiakan. Kami semua berkumpul di Masjid Al Ihsan STKS Bandung pukul 07.00 WIB, tetapi kami berangkat sekitar pukul 08.30 WIB. Lama ya? Hehe iya, da kumaha atuh ada yang masih sarapan.

Ustadz Petualang (semoga beliau mengizinkan hehe) mempersilakan untuk membuka acara dengan membaca doa dan tilawah terlebih dahulu, baru kemudian kita memulai perjalanan. Rute perjalanan kami adalah melewati Terminal Dago Atas – turun melewati permukiman warga – menanjak menyibak jalan yang kemiringannya sekitar 75 derajat (mendekati 90 derajat!) ditemani pohon-pohon pinus – lalu berhenti sejenak di tanah landai (lapangan kecil berumput).

Ada yang menarik sebelum sampai di tanah landai tempat kami beristirahat. Kami belum satupun ada yang pernah melewati jalur antah-berantah itu. Bahkan, sang Ustadz Petualang (sebagai satu-satunya orang yang tahu pun) sempat bertanya kepada rumah warga karena lupa. Dan ada perasaan yang masih terkenang saat jalan menanjak saat itu. Rasanya cuapek tenan! Jarak barisan antara ikhwan dan akhowat jadi terpisah jauh karena akhowaters kelelahan, bahkan sempat berhenti beberapa kali. Uniknya dibandingkan panitia, peserta akhowat lebih bersemangat dan lebih tangguh, loh!

Mendaki gunung, lewati lembah ~~

Mendaki gunung, lewati lembah ~~

Nah, setelah berhenti sejenak itu kami melanjutkan perjalanan kembali. “Itu sudah di depan tempatnya, kok”, kata sang Ustadz Petualang berkali-kali. Dan kami percaya bahwa tempatnya sudah dekat dengan tempat istirahat. Ternyata…kami masih harus maniki dan menuruni lembah bukit yang sepertinya lebih mirip lembah hutan (entahlah bingung menamakannya). Beberapa kali akhowatnya istirahat dan ikhwannya (terpaksa) menunggu. Beberapa kali akhowatnya tergelincir saat jalan menurun karena alas kaki yang dipakai kurang pas untuk medan yang licin dan (cukup) terjal. Perjalanan masih berlanjut melewati pinggiran lereng bukit yang hanya setapak. Sempat khawatir karena kalau jatuh rasanya akan susah ditemukan. Meskipun begitu, pemandangan yang kami dapatkan sangat bagus!

Foto Rihlah 3

Singkat cerita, perjalanan terus berlangsung hingga dari kejauhan kami melihat sungai. Dan itulah destinasi pertama kami! Di sungai yang sedang surut itu, kami duduk di bebatuan dan istirahat, kemudian dilanjutkan dengan taujih oleh sang Ustadz Petualang.

“Sejarah menuturkan bahwa peradaban besar terletak di sekitar sungai”, begitulah kira-kira kalimat pembuka sang Ustadz Petualang. Ya..betul. “Siapa yang tak kenal peradaban Mesir Kuno, China, India, dan bahkan kerajaan-kerajaan besar di Indonesia? Semuanya terletak tak jauh dari sungai”, sang Ustadz Petualang melanjutkan hingga akhir.

Setelah taujih ditutup, sang Ustadz Petualang kembali menawarkan dua pilihan perjalanan pulang yang sama-sama menantang. Pilihan pertama jalan relatif ringan, tapi rute yang belum pasti. Pilihan kedua jalan yang panjang, terjal, tapi rutenya pasti. Secara serempak kami menyepakati memilih pilihan pertama dengan segala konsekuensi. Dengan begitu, perjalanan di mulai dengan menyusuri sungai. “Kalau kita tersesat di hutan belantara, untuk selamat maka hal yang harus dilakukan adalah mencari sungai”, begitu tips dari sang Ustadz Petualang.

Setelah menyusuri sungai, tantangan perjalanan kami selanjutnya adalah menanjak lereng bukit. Bisa dibayangkan bahwa rombongan Rihlah kami tak hanya ikhwan, tetapi juga bersama akhowat yang berpakaian syar’i dengan gamis menjulurnya. Loncat sana-loncat sini, raih akar tanaman itu-raih ranting yang itu, menerobos belukar, dsb. Akhowat memang tangguh! Lalu, sebuah kejutan menanti di atas lereng bukit: Goa Belanda!

"Kalau tersesat, temukanlah sungai!"

“Kalau tersesat, temukanlah sungai!”

Yep! Destinasi kedua kami adalah Goa Belanda.

Setelah istirahat dan sholat, kami melanjutkan dengan kegiatan tilawah berantai. Lalu, kami menikmati jagung bakar bersama. Setelah itu, kami bersama-sama masuk ke dalam Goa Belanda. Kemudian berjalan kembali menuju destinasi ketiga kami, yaitu mengunjungi Goa Jepang sebelum pulang dan acara Rihlah KAMMI pun berakhir.

Daann…penasaran kan siapa sang Ustadz Petualang yang dimaksud?

Tadaa…..beliau adalah Ustdaz Eko! :3 Perkenalkan, beliau adalah murobbi para ikhwan tangguh sekaligus pembina KAMMI Komisariat STKS sekaligus founder Sekolah Alam Bandun sekaligus sekaligus sekaligus petualang tentunyaa😀

Ustadz Eko as Ustadz Petualang memberikan "taujih peradaban"

Ustadz Eko as Ustadz Petualang memberikan “taujih peradaban”

Inilah aktivis dakwah petualang: Akhi Pansuri, Akhi Ghazi, Akhi Febri, Akhi Gunawan, dan Akhi Dhiya serta akhowatnya adalah Ukhti Dhien, Ukhti Wildan, Ukhti Dewi, Ukhti Astria, Ukhti Aisyah, dan Ukhti Yuri.

Inilah aktivis dakwah petualang: Akhi Pansuri, Akhi Ghazi, Akhi Febri, Akhi Gunawan, dan Akhi Dhiya serta akhowatnya adalah Ukhti Dhien, Ukhti Wildan, Ukhti Dewi, Ukhti Astria, Ukhti Aisyah, dan Ukhti Yuri.

*Dann…Akhi Dhiya adalah dalang dari kegiatan Rihlah (semi-mukhayyam) yang super unexpected ini🙂

*Laluu..siapakah akhowat yang tergelincir? Tebak inisialnya adalah I!

*Siapa jugakah sosok yang membuat kami lama menunggu karena belum sarapan? Jelasnya ikhwan, hhmm kasih ta ngga yaa..

*Ada yang selama perjalanan kecapekan bahkan buat tersenyum sekalipun :p

*Ada yang semangat banget dan paling tangguh sampai akhir acara..

Alhamdulillah, ibrah selain terjalinnya ukhuwah adalah bertambahnya kesyukuran atas nikmat keindahan alam semesta dan tumbuhnya kesadaran bahwa seorang aktivis dakwah itu harus kuat. Sesungguhnya mukmin yang kuat lebih dicintai ALLAH dibandingkan mukmin yang lemah!

TERIMA KASIH ATAS MOMEN KEBERSAMAANNYA =D

Categories: Kegiatan KAMMI | Tags: , , , | 5 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.