Author Archives: KAMMI STKS

About KAMMI STKS

KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) STKS Bandung adalah salah satu wajihah dakwah yang berada di lingkungan STKS Bandung. Dengan semangat Amar Ma'ruf dan Nahi Munkar, berjuang memusnahkan kebatilan dan menegakkan keadilan. Salam hangat dan semangat selalu dalam perjuangan Dakwah KAMMI. Selasa, 07 Februari 2012

Pengurus Pusat KAMMI 2015 – 2017

KAMMI Komisariat STKS Bandung mengucapkan selamat atas dilantiknya pengurus baru PP KAMMI periode 2015 – 2017.

Allahu Akbar!

Barakallahu fiikum. Semoga tampuk kepengurusan yang kini berlangsung akan menciptakan kerja-kerja barokah untuk agama, bangsa, dan negeri.

PP KAMMI 2015-2017

STRUKTUR PENGURUS PUSAT

KESATUAN AKSI MAHASISWA MUSLIM INDONESIA

PP KAMMI 2015 – 2017

Ketum : Kartika Nur Rakhman, SP

WaKeum : Arif Susanto

SekJend : Irfan Ahmad Fauzi, S.Pd

Wa SekJend I : Ali Bastoni, SP

Wa SekJend II: M Perdana, S.Si

Bendum : Edi K.

WaBendum I : Muhamad Habibi

WaBendum II: Indriyani Agustina

Ketua I Bid Pembinaan Kader : Arif Ichwani, ST

KaDep Kaderisasi: Yasir Syaifurrahman, S.Pi

KaDep Instruktur: Rani Sintawati, S.Pd

KaDep Pemandu: Sanda Rangga S

KaDep Dakwah: Ahmad Walid, M.Pd

Ketua II Bid Perempuan : dr. Ni Nyoman Indirawati

KaDept Pengembangan: Ulfah Rahmayani, S.Kel

KaDep Advokasi: Sitti Heliana, ST

Ketua III Bid Pengb SDM Strategis : Robert Edy S, M.Pd

KaDep Litbang : Ade Irma SN

KaDep Kompetensi & Pengkaryaan: Anis Maryuni Ardi, S.IP

KaDep Perguruan Tinggi : Neneng Maryam, M.Pd

Ketua IV Bid Pengembangan Wilayah: Afri Darmawan

KaDep Pembinaan : Abdul Jabbar

KaDep Organisasi : Siti Wulansari Rasidi

Ketua V Bid Kebijakan Publik: Aza El Munadiyan, S.Si.,MM.

KaDep Politik: Romidi Karnawan

KaDep Ekonomi: Eko Wardaya

KaDep Hukum & HAM: Irawan Malebra, SH

KaDep Pendidikan & Kesehatan : Nur Afilin

Ketua VI Bid Humas : Safarino Novarizal

KaDep Jaringan : Arif Budi H

KaDep Media: Wahyu Panca Hidayat, S.Pd

Ketua VII Bid Ekonomi: Barry Pratama

KaDep Kewirausahaan: Rico Putra Tanjung

KaDep Ekonomi Kreatif: Ihya Udin Rosyadi, S.Sos

Ketua VIII Bid Sosmas : Firman Reza

KaDep Pembd Masyarakat: Arjun Fatahillah

KaDep Adv Masyarakat: Hilman Hilmawan

Ketua IX Bid Seni Budaya Olahraga: M. Maulana SA

KaDep Seni & Budaya: Kharis Pradana

KaDep Olahraga: Husain Fata Mizani

Ketua X Bid Hub Luar Negeri: Ade Nuansa Wibisono, M.Si

KaDep Kajian Internasional: Hidayah Sunar Perdanastuti, S.Farm, Apt.

KaDep Jaringan Luar Negeri: Imran Gurucci

KaDep Dunia Islam: Susanto Triyogo, ST

Ketua Teritorial

SumaBagUt: Agung Nugroho

SumBagSel: Rion Frianda

Jawa Bag Barat: Mahmuri Ar Rofe’i

Jawa Bag Timur: Wahyu Dani

Balinusra: Taufik Hidayat

Kalimantan: Laifvan Shuffy Irwani, M.Pd

Sulawesi: Alwan Rikun

InTim: Sarni S Walanda

Direktur LSO

Sekolah Perempuan Indonesia: Endang Dzunuraini

Korps Reaksi Cepat: Liyuda Saputra

KAMMI Pencinta Alam: M Azami Ramadhan

@KAMMIPusat

sekretariat@kammi.or.id

Categories: Pengumuman&Informasi | Tags: | 1 Comment

Rihlah KAMMI STKS

 

Sudah menginjak satu bulan setelah kegiatan Rihlah KAMMI Komisariat STKS ini berlalu. Rasanya agak sayang jika momen Rihlah ini terlewatkan begitu saja atau hanya menjadi sekadar kenangan yang mengalir bersama angin. Alangkah manisnya jika kita diabadikan melalui tulisan ini. Suatu saat, kita akan mengingat kembali bahwa kita pernah berjalan jauh menyusuri alam Dago bersama. Sekalipun lupa, semoga tulisan sederhana ini akan membangkitkan memori kita kembali ;)

Momen kami, momen kita bersama

Momen kami, momen kita bersama

Hari itu 17 Oktober 2015, tepatnya jatuh pada hari Sabtu, adalah momen bersejarah yang tak terlupakan. Dipandu oleh seorang ustadz berjiwa petualang, kami yang terdiri dari 5 orang ikhwan dan 5 orang akhowat siap melaksanakan kegiatan Rihlah (semi mukhayyam—we said) menuju destinasi yang dirahasiakan. Kami semua berkumpul di Masjid Al Ihsan STKS Bandung pukul 07.00 WIB, tetapi kami berangkat sekitar pukul 08.30 WIB. Lama ya? Hehe iya, da kumaha atuh ada yang masih sarapan.

Ustadz Petualang (semoga beliau mengizinkan hehe) mempersilakan untuk membuka acara dengan membaca doa dan tilawah terlebih dahulu, baru kemudian kita memulai perjalanan. Rute perjalanan kami adalah melewati Terminal Dago Atas – turun melewati permukiman warga – menanjak menyibak jalan yang kemiringannya sekitar 75 derajat (mendekati 90 derajat!) ditemani pohon-pohon pinus – lalu berhenti sejenak di tanah landai (lapangan kecil berumput).

Ada yang menarik sebelum sampai di tanah landai tempat kami beristirahat. Kami belum satupun ada yang pernah melewati jalur antah-berantah itu. Bahkan, sang Ustadz Petualang (sebagai satu-satunya orang yang tahu pun) sempat bertanya kepada rumah warga karena lupa. Dan ada perasaan yang masih terkenang saat jalan menanjak saat itu. Rasanya cuapek tenan! Jarak barisan antara ikhwan dan akhowat jadi terpisah jauh karena akhowaters kelelahan, bahkan sempat berhenti beberapa kali. Uniknya dibandingkan panitia, peserta akhowat lebih bersemangat dan lebih tangguh, loh!

Mendaki gunung, lewati lembah ~~

Mendaki gunung, lewati lembah ~~

Nah, setelah berhenti sejenak itu kami melanjutkan perjalanan kembali. “Itu sudah di depan tempatnya, kok”, kata sang Ustadz Petualang berkali-kali. Dan kami percaya bahwa tempatnya sudah dekat dengan tempat istirahat. Ternyata…kami masih harus maniki dan menuruni lembah bukit yang sepertinya lebih mirip lembah hutan (entahlah bingung menamakannya). Beberapa kali akhowatnya istirahat dan ikhwannya (terpaksa) menunggu. Beberapa kali akhowatnya tergelincir saat jalan menurun karena alas kaki yang dipakai kurang pas untuk medan yang licin dan (cukup) terjal. Perjalanan masih berlanjut melewati pinggiran lereng bukit yang hanya setapak. Sempat khawatir karena kalau jatuh rasanya akan susah ditemukan. Meskipun begitu, pemandangan yang kami dapatkan sangat bagus!

Foto Rihlah 3

Singkat cerita, perjalanan terus berlangsung hingga dari kejauhan kami melihat sungai. Dan itulah destinasi pertama kami! Di sungai yang sedang surut itu, kami duduk di bebatuan dan istirahat, kemudian dilanjutkan dengan taujih oleh sang Ustadz Petualang.

“Sejarah menuturkan bahwa peradaban besar terletak di sekitar sungai”, begitulah kira-kira kalimat pembuka sang Ustadz Petualang. Ya..betul. “Siapa yang tak kenal peradaban Mesir Kuno, China, India, dan bahkan kerajaan-kerajaan besar di Indonesia? Semuanya terletak tak jauh dari sungai”, sang Ustadz Petualang melanjutkan hingga akhir.

Setelah taujih ditutup, sang Ustadz Petualang kembali menawarkan dua pilihan perjalanan pulang yang sama-sama menantang. Pilihan pertama jalan relatif ringan, tapi rute yang belum pasti. Pilihan kedua jalan yang panjang, terjal, tapi rutenya pasti. Secara serempak kami menyepakati memilih pilihan pertama dengan segala konsekuensi. Dengan begitu, perjalanan di mulai dengan menyusuri sungai. “Kalau kita tersesat di hutan belantara, untuk selamat maka hal yang harus dilakukan adalah mencari sungai”, begitu tips dari sang Ustadz Petualang.

Setelah menyusuri sungai, tantangan perjalanan kami selanjutnya adalah menanjak lereng bukit. Bisa dibayangkan bahwa rombongan Rihlah kami tak hanya ikhwan, tetapi juga bersama akhowat yang berpakaian syar’i dengan gamis menjulurnya. Loncat sana-loncat sini, raih akar tanaman itu-raih ranting yang itu, menerobos belukar, dsb. Akhowat memang tangguh! Lalu, sebuah kejutan menanti di atas lereng bukit: Goa Belanda!

"Kalau tersesat, temukanlah sungai!"

“Kalau tersesat, temukanlah sungai!”

Yep! Destinasi kedua kami adalah Goa Belanda.

Setelah istirahat dan sholat, kami melanjutkan dengan kegiatan tilawah berantai. Lalu, kami menikmati jagung bakar bersama. Setelah itu, kami bersama-sama masuk ke dalam Goa Belanda. Kemudian berjalan kembali menuju destinasi ketiga kami, yaitu mengunjungi Goa Jepang sebelum pulang dan acara Rihlah KAMMI pun berakhir.

Daann…penasaran kan siapa sang Ustadz Petualang yang dimaksud?

Tadaa…..beliau adalah Ustdaz Eko! :3 Perkenalkan, beliau adalah murobbi para ikhwan tangguh sekaligus pembina KAMMI Komisariat STKS sekaligus founder Sekolah Alam Bandun sekaligus sekaligus sekaligus petualang tentunyaa :D

Ustadz Eko as Ustadz Petualang memberikan "taujih peradaban"

Ustadz Eko as Ustadz Petualang memberikan “taujih peradaban”

Inilah aktivis dakwah petualang: Akhi Pansuri, Akhi Ghazi, Akhi Febri, Akhi Gunawan, dan Akhi Dhiya serta akhowatnya adalah Ukhti Dhien, Ukhti Wildan, Ukhti Dewi, Ukhti Astria, Ukhti Aisyah, dan Ukhti Yuri.

Inilah aktivis dakwah petualang: Akhi Pansuri, Akhi Ghazi, Akhi Febri, Akhi Gunawan, dan Akhi Dhiya serta akhowatnya adalah Ukhti Dhien, Ukhti Wildan, Ukhti Dewi, Ukhti Astria, Ukhti Aisyah, dan Ukhti Yuri.

*Dann…Akhi Dhiya adalah dalang dari kegiatan Rihlah (semi-mukhayyam) yang super unexpected ini :)

*Laluu..siapakah akhowat yang tergelincir? Tebak inisialnya adalah I!

*Siapa jugakah sosok yang membuat kami lama menunggu karena belum sarapan? Jelasnya ikhwan, hhmm kasih ta ngga yaa..

*Ada yang selama perjalanan kecapekan bahkan buat tersenyum sekalipun :p

*Ada yang semangat banget dan paling tangguh sampai akhir acara..

Alhamdulillah, ibrah selain terjalinnya ukhuwah adalah bertambahnya kesyukuran atas nikmat keindahan alam semesta dan tumbuhnya kesadaran bahwa seorang aktivis dakwah itu harus kuat. Sesungguhnya mukmin yang kuat lebih dicintai ALLAH dibandingkan mukmin yang lemah!

TERIMA KASIH ATAS MOMEN KEBERSAMAANNYA =D

Categories: Kegiatan KAMMI | Tags: , , , | 3 Comments

Kado Cinta untuk Ayahanda

Sungguhnya, ada seseorang yang kelak di surga ditinggikan derajatnya , maka ia bertanya, apa yang menyebabkanku dinaikkan derajat surganya? Maka dikatakan kepadanya “Disebabkan istigfar anakmu untukmu”                    (H.R  Ahmad)
*****************************************************************************

“Aku lagi libur 2 minggu pak sakniki”  jawabku kepada bapak, ketika menelepon ke rumah.

“Lho, kok ga muleh sisan ngopo? Tanya bapak sambil tertawa.

“Wah, bolak-balik 4 juta je pak, ga ono duit”

“Alah, nek masalah duit gampang, hehehehe”.

  Harapan, sebuah harapan dalam candaan, dari orang tua ke anak rantaunya. Ketika kubertanya tentang kesehatannya, bapak menjawab “ Wes le, ra usah khawatir. Sinau ae, bapakmu ki ora popo. Nek pancen wes ajal, kwi cen es wayah e. Rasah dipikir”( Sudahlah nak, tak perlu khawatir. Belajar saja, bapakmu tidak apa-apa. Kalau memang sudah ajal, itu memang sudah waktunya. Ga perlu dipikirkan).

  Sebuah ungkapan untuk menghapus kekhawatiran seorang anak, dari seorang bapak yang sudah berumur 74 tahun. Mengharu biru.

Loncat ke masa yang berbeda.

  Masa ketika seragam masih putih hitam. Suatu ketika, kumencoba untuk mengukur kasih sayang orang tua dengan barometer harta. “Ah, bagaimana aku harus menghitungnya?” pikirku kala itu. Akhirnya kuputuskan untuk menghitung seluruh biaya yang kira-kira akan dikeluarkan oleh ayah bunda selama ku menempuh masa Sma. Biaya masuk + Spp  (selama 4 tahun)= 23.000.000. Wow, mana duit jajan belum saya tambahkan.

Mungkin kamu akan dapati nominal yang lebih besar.

  Banyak nggak sih uang segitu? Mungkin kamu akan menjawab, tergantung perekonomian keluarga dong mas. Nah, sekarang pertanyaannya, tahukan kamu tentang kondisi ekonomi keluargamu?

  Okelah, hal itu tidak perlu dijawab. Sekarang kita mencoba beralih dengan cara pandang orang tua. Pernyataan di bawah ini adalah hasil dari pengamatan pada percakapan yang terjadi di masayarakat kita. Bahkan kamu bisa dapati dalam tayangan keluarga ataupun buku bacaan.

  Jika di sana ada seorang anak yang baik, rajin dan berakhlak mulia, maka kira-kira begini ungkapan orang tua “ Ga rugi aku mengeluarkan biaya “….”  untuk sekolahmu”.

  Jika di sana ada seorang anak yang nakal, bandel plus berakhlak buruk, maka tak jarang keluar kata “Sudah mahal ku sekolahkan dirimu, tapi mana hasilnya?”

Artinya apa? Biaya belajar kita selama ini = mahal.

Mungkin saat kita menjadi orang tua nantinya, kita baru bisa merasakannya. Tapi minimal pikirkanlah.

  Bukalah mata kalian dan lihatlah, begitu besar kepercayaan orang tuamu kepada dirimu. Berusaha memberikan yang terbaik untuk buah hatinya dengan segenap jiwa raga.

Apa sih yang diinginkan mereka kepada kita?

Sebuah pertanyaan yang mungkin perlu kamu tanyakan kepada orangtuamu.

  Meloncat ke masa yang berbeda.  Disaat ku telah menyelesaikan jenjang Sma, dan berusaha menapaki pendidikan yang lebih tinggi di jakarta. Singkat cerita, aku pun harus kembali ke jogja dengan status masih sama. Lulusan Sma. Terbesit keinginan dalam hati untuk banting stir menjadi ust ngabdi.

“Pak, saya ga lulus ujian pendaftaran kuliahnya. Trus aku pingin ngabdi dulu saja. Mungkin, nanti bisa mencoba kembali” ungkapku kepada bapak.

“Wes karepmu le. Kwe arep kuliah ning ndi, opo arep nang ndi terserah kowe. Sing penting intine kwe dadi anak sing sholeh wae. Wes arep dadi opo wae, sing penting sholeh” (bhs jawa : Terserah kamu nak. Kamu mau kuliah di mana saja, atau mau ke mana saja terserah kamu. Yang penting, intinya kamu jadi anak soleh. Sudahlah, mau jadi apa saja, yang penting sholeh) Jelas bapak.

Ternyata benar, impian orang tua untuk anaknya itu tak lebih dari 2 kata. Anak Sholeh.

Cobalah kamu bertanya kepada orangtuamu, apa sih impian mereka buat dirimu?

  Mungkin selama ini kamu merasakan ada tekanan tertentu dari bapak ibumu. Mereka seakan memaksakan suatu hal kepadamu yang tidak kamu suka. Bahkan kamu sampai berteriak “ WAHAI AYAH BUNDA, MOHONLAH KALIAN SEDIKIT BIJAKSANA, MOHONLAH KALIAN PAHAMI DIRIKU”. Ya, hati kalian meronta. Seakan kehendak orang tua itu menghadang cita-cita.

  Padahal, tidak ada orangtua anda yang berpikiran demikian. Mereka berdua hanya menginginkan kebaikan.
Yang perlu kita lakukan adalah Menjadi anak yang lebih bijaksana. Menjadi anak yang bisa memahami orangtuanya. Menjadi anak yang akan menggapai harapan mereka.

  Bukan sebaliknya, meminta orangtua memahami kita. Ketahuilah, mereka juga pernah hidup seperti kita, menjadi anak Sma. Tetapi tidak sebaliknya, kita belum pernah hidup menjadi orang tua.

  Adik-adikku semuanya, jadikanlah dirimu sekarang ini, setelungkup tangan yang menjaga api lilin harapan orang tua di antara badai dunia. Yakinkanlah pada hati mereka bahwa kalian akan berusaha sebaik mungkin untuk memenuhi impian mereka. Jangan pernah sekalipun menghianati kepercayaan mereka kepadamu. Pengorbanan mereka besar, maka tunjukkan semangatmu yang besar.

  Adik-adikku semua, suatu ketika, kita juga akan menjadi orang tua. Jika kita ingin menjadi orang tua yang bahagia, maka bahagiakanlah orang tua kita sekarang. Jadilah seperti yang mereka harapkan. Maka nantinya, anak-anak kalian pun akan menjadi yang seperti kalian harapkan.

Seorang anak yang sholeh

Menyendiri di dalam masjid sepi

Mengaji, mempelajari kitab suci

Berakhlak mulia

Indah di mata sahabat dan ustadznya

Selalu ceria

Optimis

Membuat orang disekitarnya nyaman disisinya

Anak sholeh itu adalah “kamu”

Walaupun orangtuamu tak tahu

Jika mereka menyadarinya

Mata ayah bunda kan berkaca-kaca

Melihat pemandangan indah tak terkata

Yang akhirnya terlantun doa

Surga, tempat kita kan bersua

Yaa Rabb, ampunilah diriku, serta keduaorangtuaku. Dan kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka mengasihiku sewaktu kecil. Amin

image

Anak sholeh yang mendoakan orangtuanya.
Dari sahabat kalian, yang mencintai kalian, agar kalian mencintai-Nya dan orang tua yang kita punya.

==========================
By : MahasiswaGalau

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Indahnya Ukhuwah Islamiyah KAMMI

Assalamualaykum akhi wa ukhti,
Selamat pagi! Udara dipagi hari kota bandung selalu sangat segar :). Semoga kita selalu diberi kesehatan jasmani maupun rohani… Alhamdulillah KAMMI Komisariat STKS baru saja sukses menyelenggarakan kegiatan KAMMI diluar kampus.
Continue reading

Categories: Uncategorized | 3 Comments

Blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.